Teori-Teori Feminisme
Responding Paper disusun Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah
Relasi Gender Dalam Agama-Agama
Indana Zulfa
1111034000136
Sejarah Feminisme
Feminisme dilahirkan beberapa abad
lalu di Barat yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de
Condorcet, karena menilai ada ketidakadilan bagi kaum perempuan. Sumber
ketidakadilan itu dinilai karena kuatnya dominasi laki-laki (patriarki).
Menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan
perhatian dari para perempuan-putih di Eropa. Simone de Beauvoir dalam Le
Deuxieme Sexe (1949) memunculkan eksistensi perempuan sebagai kelas kedua.
Perempuan di negara-negara penjajah Eropa (perempuan kulit putih)
memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood.
Kata feminisme dikreasikan pertama
kali oleh aktivis sosialis utopis, Charles Fourier pada tahun 1837[1]. Pada
awalnya gerakan ini diperlukan pada masa itu, karena terjadinya pemasungan
terhadap kebebasan perempuan. Sejarah dunia menunjukkan bahwa secara umum kaum
perempuan (feminin) merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinomor duakan oleh
kaum laki-laki (maskulin) khususnya dalam masyarakat yang patriarki sifatnya.
Dalam bidang-bidang sosial, pekerjaan, pendidikan, dan terutama bidang politik,
hak-hak kaum perempuan biasanya memang lebih rendah ketimbang apa yang dapat
dinikmati oleh laki-laki, apalagi masyarakat tradisional yang berorientasi
agraris (pertanian), cenderung menempatkan kaum laki-laki didepan atau di luar
rumah sedangkan kaum perempuan di rumah.
Teori feminisme beranjak dari asumsi
bahwa gender merupakan konstruksi yang meskipun bermanfaat, tetapi didominasi
oleh bias laki-laki dan cenderung opresif terhadap perempuan. Teori feminis
berupaya menentang asumsi-asumsi gender yang hidup dalam masyarakat dan
mencapai cara yang lebih membebaskan kaum perempuan.[2]
Secara umum, hal-hal yang menjadi
momentum perjuangan gerakan feminisme yaitu: hak-hak perempuan, hak reproduksi,
hak berpolitik, peran gender, identitas gender dan seksualitas. Maka dapat
dikatakan bahwa sebenarnya, gerakan feminisme adalah gerakan pembebasan
perempuan dari: rasisme, stereotyping, seksisme, dan penindasan perempuan.
Dalam perjalanan sejarahnya, ide
feminisme ternyata muncul di berbagai penjuru dunia dan punya berbagai corak
yang masing-masing menawarkan analisisnya tentang sebab dan pelaku penindasan
kaum perempuan. Meski berbeda-beda, pada dasarnya feminisme sampai kini masih
sepakat bahwa diperlukan perjuangan untuk mencapai kesetaraan harkat perempuan
dengan laki-laki, serta kebebasan perempuan untuk memilih dalam mengelola
kehidupan dan tubuhnya, baik di dalam maupun di luar rumah tangga. Sampai kini
dikenal beberapa aliran besar feminisme antara lain feminisme Marxis, feminisme
Sosialis, feminisme liberal, dan ekofeminisme.[3]
Di Indonesia pada abad 20,
organisasi-organisasi perempuan mulai dibentuk untuk menentang diskriminasi
seksual di bidang politik, sosial, ekonomi, maupun personal bagi kaum
perempuan. Selain itu juga, reformasi hukum yang berperspektif keadilan melalui
desakan 30% kuota bagi perempuan dalam parlemen adalah kontribusi dari
pengalaman feminis. Saat ini, feminisme umumnya mengacu pada semua usaha yang
mencoba untuk mengakhiri subordinasi.
Feminisme juga dapat dikatakan
sebagai sebuah ide yang berupaya melakukan pembongkaran terhadap ideologi
penindasan atas nama jender, pencarian akar ketertindasan perempuan sampai
upaya penciptaan pembebasan perempuan secara sejati. Feminisme sesungguhnya
adalah basis teori dari gerakan pembebasan perempuan. Berbicara mengenai
pembebasan berarti ada hubungannya dengan penindasan. Pembebasan mewujudkan
pembatasan atas penindasan. Penindasan bersifat tidak adil. Penindasan dan
pembebasan tidak hanya memperkenalkan terminologi politik baru, namun sebuah
perspektif baru dalam dunia politik, pandangan ini dipengaruhi oleh ide Marxis
dari perlawanan kelas.
Teori Feminisme Sosialis
Aliran feminis sosialis mulai
berkembang di Jerman dan Rusia dengan menampilkan beberapa tokohnya, seperti
Clara Zetkin (1871-1919). Feminisme sosialis sepaham dengan feminisme marxis
bahwa kapitalisme merupakan sumber penindasan perempuan. Aliran feminis
sosialis ini juga setuju dengan feminisme radikal yang menganggap patriarkilah
sumber penindasan itu. Akan tetapi feminisme sosialis tidak melihat laki-laki
sebagai sumber penindasan ataupun sebagai musuh kaum perempuan.[4]
Menurut pandangan feminisme
sosialis, perjuangan melawan penindasan atas perempuan adalah perjuangan untuk
melawan penindasan dan penghisapan dari kelas masyarakat, bukan perjuangan
melawan laki-laki karena penindasan perempuan merupakan produk dari kelas
masyarakat.[5]
Feminis sosialis berupaya
menghilangkan struktur kelas dalam masyarakat berdasarkan jenis kelamin. Aliran
ini berpendapat bahwa ”ketimpangan jender didalam masyarakat adalah akibat
penerapan sistem kapitalis” yang mendukung terjadinya tenaga kerja tanpa upah
bagi perempuan dalam lingkungan rumah tangga. Kapitalisme adalah sebuah sistem
yang digunakan sebagai alat untuk kebutuhan minoritas, untuk pengejaran
keuntungan dan karenanya menimbulkan perampasan, eksploitasi, dan penindasan
(dalam segala bentuk) dari mayoritas.[6]
Melalui perspektif Marxis, penindasan
perempuan merupakan produk dari masyarakat kelas dan hanya bisa diakhiri
apabila kita mampu menghancurkan seluruh tatanan masyarakat kelas. Perempuan
tidak akan terbebaskan sebelum menghancurkan sisa-sisa kelas masyarakat,
sehingga perjuangan kelas dan perjuangan untuk perempuan merupakan satu
kesatuan yang tidak terpisahkan. Ini
menegaskan bahwa jika gerakan feminisme tidak mengembangkan strategi untuk
membangun aliansi dengan sektor tertindas lainnya maka mustahil dasar
penindasan perempuan dapat dihancurkan.
Feminis sosialis memandang
kapitalisme dan patriarki adalah dua kekuatan yang saling mendukung. Menurut Heidi
Hartmann (1992), salah seorang feminis sosialis, patriarki adalah relasi
hirarkis antara laki-laki dan perempuan dimana laki-laki lebih dominan dan
perempuan menempati posisi subordinat. Menurutnya, patriarki semacam forum
solidaritas antar laki-laki yang mempunyai landasan material serta memungkinkan
mereka untuk mengontrol perempuan. Agenda perjuangan untuk memeranginya adalah
menghapuskan kapitalisme dan sistem patriarki. Di Indonesia, analisis ini
bermanfaat untuk melihat problem-problem kemiskinan yang menjadi beban
perempuan.
Feminisme sosialis mencoba
membongkar akar ketertindasan perempuan dan menawarkan ideologi alternatif
yakni: Sosialis. Penindasan terhadap perempuan tidak akan berakhir selama masih
terus diterapkannya sistem kapitalisme. Inilah yang dikatakan sebagai
peminggiran peran perempuan sebagai bagian dari produk sosial, politik dan
ekonomi yang berhubungan dengan keberadaan kapitalisme sebagai suatu sistem.
Inilah penindasan yang berakar pada keberadaan kelas-kelas dalam masyarakat.
Secara ringkas, feminisme sosialis
berpandangan bahwa perjuangan sosialisme tak dapat dipisahkan dengan perjuangan
pembebasan perempuan dan dengan keteguhan didalam masyarakat yang
terorganisirlah pembebasan perempuan sejati akan tercapai, yakni ketika masyarakat
sosialis telah tercipta. Tak
ada sosialisme tanpa pembebasan perempuan, tak ada pembebasan perempuan tanpa
sosialisme.
Feminisme ortodoks
Feminisme ortodoks dikenal sebagai feminisme gelombang kedua, berkarakter sangat
fanatik dan ortodoks dengan penjelasan-penjelasan wacana patriarkhal. Kaum
feminis garis keras ini begitu yakin bahwa segala sesuatu yang menyusahkan dan
menindas perempuan berhubungan dengan patrarkhal, hingga segala argumen hanya
bertumpu pada penjelasan patrarkhal. Camille Paglia seorang profesor studi
kemanusiaan dari Universitas Philadelphia mengkritik sikap feminis ortodoks
sebagai kelompok yang selalu menganggap perempuan sebagai korban.
Bagi kalangan feminis ortodoks
feminisme diartikan sebagai identifikasi dengan keinginan kesetaraan gender
lewat perjuangan historis yang dicapai dengan advokasi melalui kegiatan
politik. Feminisme memperlihatkan adanya perbedaan antara femnin dan maskulin
yang dikonstruksikan secara sosial dan budaya. Sedangkan jantan (male) dan
betina (female) merupakan aspek biologis yang menentukan jenis kelamin
laki-laki dan perempuan. Perbedaan linguistik ini bagi feminis ortodoks
dianggap sebagai sesuatu yang ideologis. Sedangkan bagi kalangan postfeminisme
dianggap sebagai masalah.
Postfeminisme
Kecenderungan feminisme ortodoks
yang selalu melihat perempuan sebagai makhluk lemah tak berdaya dan korban
laki-laki ini, tidak dapat diterima oleh perempuan-perempuan muda tahun 1900-an
dan 2000 di beberapa negara maju. Retorika feminisme yang melekat pada
“ibu-ibu” mereka terutama di tahun 70-an di daratan Amerika dan Inggris telah
membuat generasi kuda “bosan” dengan feminisme.
Feminisme sekan menjadi ukuran moralistik dan politik seseorang dan menjadi
pergerakan kaum histeris, serta sangat mudah untuk menuduh dan melabeling
seseorang dengan atribut “tidak femnis”. Kelompok inilah yang kemudian
memperjuangkan postfeminisme.
Bahkan embrio kelompok ini sudah
mulai muncul di tahun 1968 di Paris, tepatnya ketika mereka (kelompok anggota
po et psych/ politique et psychoanalyse) turun ke jalan pada Hari Perempuan
tanggal 8 Maret 1968 dan meneriakkan : Down with feminism. Sejak tahun 1960
kelompok postfeminis ini telah berusaha mendekonstruksi wacana pastriarkhal
terutama wacana yang dikembangkan oleh feministes revolutionnaires (FR).
Bagi kelompok po et psych, posisi FR
yang memakai semangat humanisme, jatuh lagi pada esensialisme yang mempunyai
kategori fixed. Oleh karenanya po et psych mengadopsi teori psikoanalisa Freud
yang mencoba menggunakan metode dekonstruksi dalam melihat teks-teks
ketertindasan perempuan. Selain itu kelompok ini tidak menekankan pada
kesetaraan (equality) seperti kelompok FR, yaitu identitas dan gender, tetapi
lebih menekankan pada perbedaan (diffrence). Di sini dapat dipahami bila postfeminisme
membawa paradigma baru dalam feminisme, dari perdebatan
seputar kesetaraan ke perdebatan seputar perbedaan.
Bagaimana perkembangan aliran
feminisme di Indonesia? Dapat dikatakan Indonesia
masih mengalami euforia feminisme. Dan seperti euforia lainnya, terkesan masih
norak dengan situasi yang baru, Feminis di Indonesia masih cenderung reaktif
seperti feminis di barat di era 60-an dan 70-an.
[1]
Dewi Candraningrum Soekirno, Menolak Universalisme ‘Perempuan’: Perempuan
Indonesia ‘bukan’ Perempuan Jawa, Jakarta, 2003, hal. 2.
[2]
Mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Jakarta: Pustaka
Pelajar, 2003, hal. 86.
[3] Nur
Amin Samhuri “Feminisme Sosialis: Apa? Bagaimana? Dan Mengapa Kita Harus
Menolak Feminisme Borjuis?” (Materi Pendidikan Politik Perempuan yang
dibawakan dalam DIKPOL Perempuan Mahardika), Medan, 5 Januari 2007, hal.
1.
0 komentar:
Posting Komentar