Responding Paper Relasi Gender dalam Islam
Indana Zulfa
1111034000136
Islam adalah sistem kehidupan yang mengantarkan manusia untuk memahami
realitas kehidupan. Islam juga merupakan tatanan global yang diturunkan Allah
sebagai Rahmatan Lil-’alamin. Sehingga – sebuah konsekuensi logis – bila
penciptaan Allah atas makhluk-Nya memiliki missi sebagai khalifatullah fil
ardh, yang memiliki kewajiban untuk menyelamatkan dan memakmurkan alam, sampai
pada suatu kesadaran akan tujuan menyelamatkan peradaban kemanusiaan. Dengan
demikian, wanita dalam Islam memiliki peran yang konprehensif dan kesetaraan
harkat sebagai hamba Allah serta mengemban amanah yang sama dengan laki-laki.
Berangkat dari posisi di atas, muslimah memiliki peran yang sangat
strategis dalam mendidik ummat, memperbaiki masyarakat dan membangun peradaban,
sebagaimana yang telah dilakukan oleh shahabiyah dalam mengantarkan masyarakat
yang hidup di zamannya pada satu keunggulan peradaban. Mereka berperan dalam
masyarakatnya dengan azzam yang tinggi untuk mengoptimalkan seluruh potensi
yang ada pada diri mereka, sehingga kita tidak menemukan satu sisipun dari
seluruh aspek kehidupan mereka terabaikan. Mereka berperan dalam setiap waktu,
ruang dan tataran kehidupan mereka.
Kesadaran para shahabiyat untuk berperan aktif dalam dinamika
kehidupan masyarakat terbangun dari pemahaman mereka tentang syumuliyyatul
islam, sebagai buah dari proses tarbiyah bersama Rasulullah SAW. Islam yang
mereka pahami dalam dimensinya yang utuh sebagai way of life, membangkitkan
kesadaran akan amanah untuk menegakkan risalah itu sebagai sokoguru perdaban
dunia.
Hingga pada akhirnya Islam masuk ke
peradaban dunia. Pergerakan yang disumbasihkan
oleh Islam terbilang sangat pesat. Di sepanjang sejarah Islam, bangunan,
institusi, dan pola pikir yang digunakan masyarakat muslim kurun awal yang
merupakan wacana, Islam inti
telah memainkan peran sentaral dalam mendefinisikan kedudukan wanita dalam
masyarakat muslim. Nilai-nilai universal yang Islam kembangkan dalam permasalahan ini
di antaranya, kesetaraan, keadilan, musyawarah, reinterprestasi, dan dekonstruksi.
Bahwasanya,
Islam itu dibangun atas dasar nilai keadilan
dengan adanya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.[1]
Hal ini termaktub dalam al-Qur’an:
Q.S al-Ahzab ayat 35
35. Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang
muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin[1218], laki-laki dan perempuan yang
tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan
perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan
perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan
perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak
menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala
yang besar.
Penciptaan antara laki-laki dan perempuan yang tercantum dalam Q.S
an-Nisa 4:1
1. Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu
yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya.[2]
Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan
laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan
(mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain,[3]
dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya
Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
Dalam
al-Qur’an surah An-Nisaa ayat pertama, tercantum kata “min nafs wahidah”
dari diri yang satu. Bahwa laki-laki dan atau
perempuan itu diciptakan oleh Tuhan dari diri yang satu. Terdapat perbedaan pendapat dalam menafsirkan
kata nafs wahidah, yang pertama—Ibnu Katsir, bahwa yang dimaksud dengan nafs
wahidah itu adalah Adam. Sehingga, Adam atau laki-laki menjadi yang pertama
diciptakan, dan Hawa atau perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam, sehingga
menjadi yang kedua yang diciptakan.
Dalam penafsiran yang kedua—Muhammad Abduh, bahwa nafs
wahidah itu merupakan suatu wujud yang sejenis ruh. Sehingga, Adam dan Hawa adalah bentuk manusia yang diciptakan
pertama kali, dari satu jenis tersebut.
Dari
penafsiran mengenai awal mula penciptaan manusia ini, maka terdapat implikasi
logis mengenai perempuan menjadi pemimpin. Jika ada yang berpegang pada
pendapat pertama—bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam—maka perempuan
dalam ranah kehidupan masa modern ini tidak bisa menjadi seorang pemimpin,
karena kedudukannya yang berada di bawah laki-laki.
Sedangkan,
jika kita berpegang pada pendapat yang kedua—bahwa perempuan dan laki-laki itu
sama-sama diciptakan dari nafs wahidah, dari diri yang satu, maka hal
ini mengindikasikan bahwa jika perempuan menjadi seorang pemimpin, itu adalah
hal yang sah, karena kedudukan perempuan dalam perkara duniawi itu sama dengan
laki-laki.
Agama
Islam, agama yang rahmatan lil ‘alamin, sudah barang tentu memuliakan
perempuan. Karena dalam pandangan Tuhan, laki-laki dan perempuan dengan
porsinya masing-masing itu bisa dikatakan sama saja. Yang membedakan diantara
keduanya hanyalah iman dan ke-taqwa-an.
Dalam
hal ini mufasir pun mengalami perbedaan pendapat. Di satu kubu mufasir tersebut
berpendapat boleh dengan bersandarkan pada ayat al-Qur’an
49:13/33:35/30:31/4:19. Namun dilain sisi mufasir lainnya berpendapat haram
dengan bersandarkan pada ayat al-Qur’an 4:34. Pada hal ini yang harus kita
pertegas adalah pemahaman penafsiran. Bahwasanya penafsiran itu sepanjang jalan
mengalami perkembangan zaman. Sesuai dengan kebenaran/ ilmu yang dikatakan
dalam filsafat, bahwa kebenaran itu relatif. Maka suatu penafsiran pun akan
mengalami masa re-Interprestasi dan dekontruksi sesuai kebutuhan zaman.
[1] Terkecuali pada hal-hal yang telah dikodratkan oleh Allah kepada
seorang hamba yang satu sama lain tidak dapat menukarnya.
[2] Maksud dari padanya menurut jumhur mufassirin ialah dari
bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan
Muslim. di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur
yang serupa Yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.
[3] Menurut kebiasaan
orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain
mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka billah artinya saya bertanya
atau meminta kepadamu dengan nama Allah.
0 komentar:
Posting Komentar