Senin, 24 November 2014

Relasi Gender dalam Islam


Responding Paper Relasi Gender dalam Islam
Indana Zulfa
1111034000136

Islam adalah sistem kehidupan yang mengantarkan manusia untuk memahami realitas kehidupan. Islam juga merupakan tatanan global yang diturunkan Allah sebagai Rahmatan Lil-’alamin. Sehingga – sebuah konsekuensi logis – bila penciptaan Allah atas makhluk-Nya memiliki missi sebagai khalifatullah fil ardh, yang memiliki kewajiban untuk menyelamatkan dan memakmurkan alam, sampai pada suatu kesadaran akan tujuan menyelamatkan peradaban kemanusiaan. Dengan demikian, wanita dalam Islam memiliki peran yang konprehensif dan kesetaraan harkat sebagai hamba Allah serta mengemban amanah yang sama dengan laki-laki.
Berangkat dari posisi di atas, muslimah memiliki peran yang sangat strategis dalam mendidik ummat, memperbaiki masyarakat dan membangun peradaban, sebagaimana yang telah dilakukan oleh shahabiyah dalam mengantarkan masyarakat yang hidup di zamannya pada satu keunggulan peradaban. Mereka berperan dalam masyarakatnya dengan azzam yang tinggi untuk mengoptimalkan seluruh potensi yang ada pada diri mereka, sehingga kita tidak menemukan satu sisipun dari seluruh aspek kehidupan mereka terabaikan. Mereka berperan dalam setiap waktu, ruang dan tataran kehidupan mereka.
Kesadaran para shahabiyat untuk berperan aktif dalam dinamika kehidupan masyarakat terbangun dari pemahaman mereka tentang syumuliyyatul islam, sebagai buah dari proses tarbiyah bersama Rasulullah SAW. Islam yang mereka pahami dalam dimensinya yang utuh sebagai way of life, membangkitkan kesadaran akan amanah untuk menegakkan risalah itu sebagai sokoguru perdaban dunia.
            Hingga pada akhirnya Islam masuk ke peradaban dunia. Pergerakan yang disumbasihkan oleh Islam terbilang sangat pesat. Di sepanjang sejarah Islam, bangunan, institusi, dan pola pikir yang digunakan masyarakat muslim kurun awal yang merupakan wacana, Islam inti telah memainkan peran sentaral dalam mendefinisikan kedudukan wanita dalam masyarakat muslim. Nilai-nilai universal yang Islam kembangkan dalam permasalahan ini di antaranya, kesetaraan, keadilan, musyawarah, reinterprestasi, dan dekonstruksi.
            Bahwasanya, Islam itu dibangun atas dasar nilai keadilan dengan adanya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.[1] Hal ini termaktub dalam al-Qur’an:

Q.S al-Ahzab ayat 35

35. Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin[1218], laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.
            Penciptaan antara laki-laki dan perempuan yang tercantum dalam Q.S an-Nisa 4:1

1. Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya.[2] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain,[3] dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Dalam al-Qur’an surah An-Nisaa ayat pertama, tercantum kata “min nafs wahidah” dari diri yang satu. Bahwa laki-laki dan atau perempuan itu diciptakan oleh Tuhan dari diri yang satu. Terdapat perbedaan pendapat dalam menafsirkan kata nafs wahidah, yang pertama—Ibnu Katsir, bahwa yang dimaksud dengan nafs wahidah itu adalah Adam. Sehingga, Adam atau laki-laki menjadi yang pertama diciptakan, dan Hawa atau perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam, sehingga menjadi yang kedua yang diciptakan.
Dalam penafsiran yang kedua—Muhammad Abduh, bahwa nafs wahidah itu merupakan suatu wujud yang sejenis ruh. Sehingga, Adam dan Hawa adalah bentuk manusia yang diciptakan pertama kali, dari satu jenis tersebut.
Dari penafsiran mengenai awal mula penciptaan manusia ini, maka terdapat implikasi logis mengenai perempuan menjadi pemimpin. Jika ada yang berpegang pada pendapat pertama—bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam—maka perempuan dalam ranah kehidupan masa modern ini tidak bisa menjadi seorang pemimpin, karena kedudukannya yang berada di bawah laki-laki.
Sedangkan, jika kita berpegang pada pendapat yang kedua—bahwa perempuan dan laki-laki itu sama-sama diciptakan dari nafs wahidah, dari diri yang satu, maka hal ini mengindikasikan bahwa jika perempuan menjadi seorang pemimpin, itu adalah hal yang sah, karena kedudukan perempuan dalam perkara duniawi itu sama dengan laki-laki.
Agama Islam, agama yang rahmatan lil ‘alamin, sudah barang tentu memuliakan perempuan. Karena dalam pandangan Tuhan, laki-laki dan perempuan dengan porsinya masing-masing itu bisa dikatakan sama saja. Yang membedakan diantara keduanya hanyalah iman dan ke-taqwa-an.   
Dalam hal ini mufasir pun mengalami perbedaan pendapat. Di satu kubu mufasir tersebut berpendapat boleh dengan bersandarkan pada ayat al-Qur’an 49:13/33:35/30:31/4:19. Namun dilain sisi mufasir lainnya berpendapat haram dengan bersandarkan pada ayat al-Qur’an 4:34. Pada hal ini yang harus kita pertegas adalah pemahaman penafsiran. Bahwasanya penafsiran itu sepanjang jalan mengalami perkembangan zaman. Sesuai dengan kebenaran/ ilmu yang dikatakan dalam filsafat, bahwa kebenaran itu relatif. Maka suatu penafsiran pun akan mengalami masa re-Interprestasi dan dekontruksi sesuai kebutuhan zaman.


[1] Terkecuali pada hal-hal yang telah dikodratkan oleh Allah kepada seorang hamba yang satu sama lain tidak dapat menukarnya.
[2] Maksud dari padanya menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa Yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.
[3] Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah.


0 komentar:

Posting Komentar