Jumat, 28 November 2014

Responding Paper Relasi Gender dalam Agama Konghucu

Responding Paper
Relasi Gender dalam Agama Konghucu
Indana Zulfa (1111034000136)

A.    Status Perempuan dalam Agama Konghucu
Sejarah memberikan lukisan keadaan perkembangan suatu agama, bangsa, masyarakat, lembaga atau seseorang pada suatu masa atau jaman. Dapat memahami sejarah berarti mengetahui dan mengerti tentang masa lampau dan perkembangannya. Sing Jien (Nabi) Khongcu bersabda,” Orang yang setelah memahami Ajaran Lama lalu dapat menerapkannya pada yang baharu, dia boleh dijadikan guru”. Untuk memahami bagaimana agama Khonghucu berbicara tentang perempuan, maka wajib pula mengetahui sejarahnya, sejak dari awal dan perkembangannya sampai disempurnakan. Agama Khonghucu istilah aslinya disebut Ji Kau, atau Agama Ji, yang berarti Agama bagi Yang Lembut Hati, yang terbimbing, yang terpelajar dalam ajaran Suci. Karena peranan besar dari Nabi Khongcu dalam penyempurnaan Agama ini, maka dunia, di mulai dari dunia Barat lebih banyak menyebutnya Agama Khonghucu atau Konfucius.
Kong Hu Cu selalu menghindari pembicaraan mengenai metafisika, ketuhanan, jiwa, dan berbagai hal yang ajaib. Namun ia tidak meragukan tentang adanya Tuhan Yang Maha Esa yang dianut masyarakatnya. Bahkan ia lebih meneguhkan pemujaan terhadap leluhur, dengan kesetiaan terhadap sanak keluarga dan penghormatan terhadap orang tua. Ia mengajarkan betapa penting artinya penghormatan dan ketaatan istri terhadap suami, ataupun rakyat terhadap penguasanya. Menurut Kong Hu Cu hidup ini ada dua nilai yaitu Yen dan Li. Yen artinya cinta atau keramahtamahan dalam hubungan dengan seseorang, sedangkan Li artinya keserangkaian antara perilaku, ibadah, adat istiadat, tata karma dan sopan santun. Kong Hu Cu mengatakan bahwa ada tiga hal yang menjadi tempat orang besar, yaitu kagum terhadap perintah Tuhan, kagum terhadap orang-orang penting, dan kagum terhadap kata-kata yang bijaksana. Orang yang tidak kagum terhadap ketiga hal tersebut atau malahan berperilaku tidak sopan dan menghina kata-kata bijaksana adalah orang-orang yang picik (Lun Yu 16:8). Ia berkeyakinan bahwa adanya Negara itu tak lain untuk melayani kepentingan rakyat, bukan rakyat untuk (penguasa) Negara. Maka penguasa pemerintahan harus member contoh suri tauladan yang moralis terhadap rakyat dan bukan bertindak zalim. Kong Hu Cu berkata “apa yang kamu tidak suka orang lain berbuat atas dirimu, jangan lakukan”.
Pada dasarnya, dalam komunitas pemeluk Khonghucu tidak mengenal diskriminasi perempuan. Manakalah di dalam naskah-naskah yang berkaitan dengan Ajaran Khonghucu dijumpai wacana-wacana yang bernada anti-perempuan, kesemuanya itu adalah sesungguhnya bukan berasal dari Ajaran Khonghucu dan boleh jadi karena emosi dan egoisme pada cendikiawan pria pada waktu itu. Perlu disampaikan kitab-kitab Ajaran Khonghucu pernah mengalami pemusnahan secara besar-besarnya pada dinasti Ch’in oleh Shih Wang-ti ( 221-209 sebelum Masehi) , dengan alasan sejarah harus dimulai dengan beliau, rakyat hanya dapat memeluk satu aliran filsafat yaitu mashab serbahukum (legalisme) yang diyakininya. Ketidaksetaraan perempuan dalam agama Konghucu berkisar pada keluarga, yang pertama seorang anak perempuan harus tunduk kepada ayahnya, kedua seorang istri harus patuh kepada suaminya, dan yang ketiga seorang ibu yang tunduk kepada anak lelakinya. Namun ada yang berpendapat bahwa pernyataan tersebut bukanlah sebuah bias gender, karena itu adalah suatu keharusan bagi perempuan dalam keluarga harus tunduk kepada seorang lelaki.
B.     Kedudukan Perempuan dalam Hubungan Perjodohan atau Perkawinan
Di dalam kitab Sanjak ( Shi-Ching, bagian Chiang Chung-tsu, Sanjak 3, berjudul ,”Menjinjing Busana) terdapat sanjak yang memperlihatkan bagaimana seorang perempuan berupaya mempertahankan martabatnya di hadapan laki-laki . Demikian bunyinya,” Chung, kekasihku yang terhormat, kumohon janganlah bertindak demikian, melompat masuk ke kebunku, hingga mematahkan dahan pohon-cendanaku. Kerusakan itu dapat kuabaikan, tetapi bila ada seorang sekitar mengetahui perbuatanmu itu, mereka akan bertanya:’Gerangan apakah yang membawa pemuda itu ke sana? Kata-kata mereka inilah yang kukhawatirkan. Engkau, Chung mendapat jantung-hatiku; tetapi umpatcaci merekalah yang akan mencemarkan daku”.
Sanjak di atas menunjukkan kepada kita bahwa meskipun wanita bebas-merdeka pada zaman itu, tetapi mereka tidak menyetujui percintaan bebas tanpa batas-batas kesusilaan.
Pada Sanjak 6 yang terdapat pada Bagian Wei (Sanjak Wei), berjudul Mang ( Bajingan) berbunyi sebagai berikut (penggalan kecil saja yang dikutip), ”Tetapi engkau tak mengenal tebing maupun pantai, nafsumu tak pernah mengingkari hal ini. Kembali pada masa remajaku yang bahagia, tatkala rambutku masih terikat pada pita, dengan tak berpikir panjang lebar, engkau kuikuti; aku tak mengerti, bahwa janji setia dan senyum manismu ternyata palsu belaka. Bagiku engkau mengucapkan sumpah suci, siapa tahu, kini kau ingkari semua. Tak ku sangka engkau begitu jahanam. Sekarang aku menyesal tanpa guna”.
Sanjak di atas menggambarkan kecaman perempuan secara terbuka terhadap perlakuan sewenang-wenang oleh kaum pria terhadap perempuan. Tentu mengharukan sekali seorang perempuan mengungkapkan secara terus terang perlakuan yang diterimanya bagaikan “habis manis sepah dibuang” oleh pria hidung belang.
Sedangkan pada Kitab Yak King (Kitab Perubahan) ada wacana sebagai berikut,”…. tahan dalam kebajikan dengan benar-teguh: untuk seorang isteri adalah rahmat..” ; Pula, “rahmat karena isteri yang benar-teguh menunjuk sifat mengikuti yang satu sampai akhir hayatnya” . Sebaliknya bila seorang perempuan mengadakan hubungan gelap dengan banyak pria, dianggap tidak mendapat rahmat. Kitab Kejadian berkata,”wanita perkasa, bukan untuk menjadi isteri”.  “….Begitu seorang anak laki-laki atau perempuan lahir, orang tuanya tentu berharap kelak ia memperoleh seorang isteri/ suami. Hati orang tua yang demikian ini semua orang mempunyainya. Tetapi kalau tanpa menanti perkenan orang tuanya,.... melainkan diam-diam saling mengintip dari celah-celah dinding lalu memlompati pagar dan lari, niscaya orang tuanya, bahkan orang seluruh negeri akan memandang rendah perbuatan mereka….”
Nabi Khongcu sangat menaruh hormat pada perempuan, khususnya terhadap Lembaga Perkawinan, seperti dapat kita ikuti pada teks-teks berikut:
Pada Kitab Lee Ki (Catatan Kesusilaan) disebutkan, ”Pernikahan ialah pangkal peradaban sepanjang jaman.
Dia bermaksud memadukan dan mengembangkan benih kebaikan dua jenis manusia yang berlainan keluarga untuk melanjutkan Ajaran Suci para Nabi. Ke atas untuk memuliakan Firman Tuhan Yang Maha Esa, mengabdi kepada para leluhur dan ke bawah untuk meneruskan keturunan”.
Di dalam Kitab Sanjak tertulis,”Keselarasan hidup bersama anak isteri itu laksana alat musik yang ditabuh harmonis. Kerukunan diantara kakak dan adik itu membangun damai dan bahagia. Maka demikianlah hendaknya engkau berbuat di dalam rumah tanggamu; bahagiakanlah isteri dan anak-anakmu”. 
Demikian pula Bingcu (Mencius) sebagai seorang rasul/penegak di dalam Agama Khonghucu, seperti halnya Nabi Khongcu juga adalah orang beruntung mempunyai seorang Ibu yang sangat memperhatikan pendidikan, seperti diceritakan berikut ini
Diceritakan ketika Rasul Bingcu ( Mencius) masih kecil ia sempat meniru kelakuan anak yang nakal, yaitu beberapa kali ia berkelahi dan membolos dan pada suatu hari ia sekonyong-konyong tiba di rumah sebelum waktu bersekolah berakhir, karena ia sudah jenuh mendengarkan pelajaran di sekolahnya.
Ibunya yang sedang sibuk menenun, menanyakan mengapa ia sudah pulang sebelum waktunya. Setelah Bingcu(Mencius) mengatakan sebab-sebabnya, maka ibunya mengambil gunting dan dipotongnya kain yang sedang ditenun itu menjadi dua helai. Melihat kejadian itu, Mencius menjerit,”O, mengapa kain yang bagus itu ibu gunting menjadi dua?”. Ibunya menjawab,”Anakku yang manis, mengapa aku berbuat seperti yang baru saja kausaksikan?. Jika kau tinggalkan buku-bukumu, maka itu sama artinya se-akan-akan kau memotong kemajuan hidupmu sendiri, seperti aku telah menggunting kain tenunku yang bagus itu”. Air mata Bingcu meleleh dan sejak itu Mencius tak pernah lagi meninggalkan sekolah, dan ia kemudian menjadi orang yang sangat pandai dan menjadi penegak ajaran Khonghucu. 
Dari cerita mengenai kehidupan Nabi Khongcu dan Bingcu dapat diketahui bahwa ibu mereka adalah orang biasa saja, tetapi dengan kesederhanaan dan cinta kasihnya yang tulus telah mampu melakukan karya besar. Dengan demikian jelaslah bagi kita tidak ada jaminan bila kedua orang tua berpendidikan tinggi, maka otomatis anaknya pasti seorang sarjana atau orang yang berbudi luhur. Pendidikan Watak Sejati sekali-kali tidak dapat mengandalkan sekolah, tetapi haruslah dilakukan di rumah/ keluarga dengan memberi teladan yang benar dan memberi lingkungan yang tepat.
Penghargaan Mencius terhadap perempuan dan lembaga perkawinan tercermin dari ayat berikut ini:
“Mencius said,”That male and female should dwell together is the greatest of human relations” ( Bingcu berkata,” hal laki-laki dan perempuan hidup berkeluarga adalah hubungan yang terbesar di dalam hidup manusia”).
Pada bagian lain dalam Kitab Bingcu dikatakan,”… Setelah seorang anak laki-laki menjalankan upacara mengenakan topi ( tanda sudah akil-baliq), sang Bapa memberi petuah-petuahnya. Seorang anak perempuan ketika akan berangkat menikah, sang ibu memberi petuah-petuahnya. Ketika akan berangkat, diantar sampai pintu lalu dinasehati:”Anakku yang berangkat menikah, berlakulah hormat, berlakulah hati-hati, janganlah berlawanan-lawanan dengan suamimu”. Memegang teguh sifat menurut di dalam kelurusan itulah Jalan Suci seorang perempuan”. 
Di dalam Kitab Tengah Sempurna ditegaskan bahwa,”Jalan Suci seorang Kuncu pada dasarnya terdapat dalam hati tiap pria dan perempuan dan pada puncaknya meliputi di mana pun diantara langit dan bumi”. 
“Maka seorang Kuncu ( Pria maupun Perempuan, tambahan dari Pen.) tidak boleh tidak membina diri; bila berhasrat membina diri, tidak boleh tidak mengabdi kepada orang tua; bila berhasrat mengabdi kepada orang tua, tidak boleh tidak mengenal manusia, dan bila berhasrat mengenal manusia, tidak boleh tidak mengenal kepada Thian ( Tuhan Yang Mahaesa)”. 
Begitu pentingnya makna hubungan suami-isteri tersebut sehingga tidak dapat diperkirakan, karena dari merekalah berawalnya semua hubungan kemanusiaan. Kemudian, anak yang lahir dari perkawinan suami-isteri dituntut untuk menaruh hormat ( berbakti) kepada kedua orang tuanya. Seperti tertulis dalam kitab Hau King (Bakti),”Sesungguhnya Laku Bakti itu ialah pokok Kebajikan, darinya ajaran Agama berkembang. Tubuh, anggota badan, rambut, dan kulit diterima dari ayah dan bunda. Perbuatannya tidak berani membiarkannya rusak dan luka, itulah permulaan/dasar laku bakti. Menegakkan diri hidup melaksanakan Jalan Suci, meninggalkan nama baik di jaman kemudian, sehingga memuliakan ayah-bunda, itulah akhir laku bakti”.
Pada ayat lain dalam Kitab Hau King ( Bakti) tertulis,”Di dalam mengabdi kepada ayah hendaknya ada rasa cinta seperti mengabdi kepada ibu. Di dalam mengabdi kepada ayah hendaknya ada rasa hormat seperti mengabdi kepada pemimpin. Maka, dari ibu diambil rasa cinta dan dari pemimpin diambil rasa hormat…..”
Dari ayat-ayat di atas terlihat jelas dikehendaki terpeliharanya hubungan yang harmonis antara suami-isteri, sesama saudara tidak memandang jender, sehingga dapat dibangun kehidupan sosial yang saling menghargai peranan satu sama yang lainnya, mengingat manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Mahaesa di dunia ini memiliki arti dan fungsinya masing-masing.
C.    Peranan Perempuan dalam Kehidupan Politik atau Bernegara
Di dalam Kitab Bingcu diceritakan pada Jaman Raja Bu ( pendiri dinasti Chou ( 1122 – 255 s.M.) diantara 10 orang menteri yang cakap terdapat seorang perempuan. Hal ini menunjukkan sesungguhnya dalam bidang pendidikan kualitas pendidikan yang diberikan baik kepada pria maupun perempuan tidak terdapat pembedaan, sehingga memungkinkan perempuan menduduki tempat terhormat. 
Di lain pihak ternyata telah terjadi pula perempuan dimanfaatkan untuk mencapai kepentingan politik tertentu. Sekitar tahun 500 sebelum Masehi ketika Nabi Khongcu menjabat sebagai Perdana Menteri merangkap menteri Kehakiman Negeri Lo yang bersama-sama Raja Lo Ting Kong berhasil menertibkan kekuasaan pemerintahan; kesejahteraan dapat ditegakkan dan dikembangkan serta ajaran agama yang benar ditaati dan diselenggarakan. Melihat keberhasilan Nabi dalam menyelenggarakan pemerintahan negeri Lo, ternyata sangat mencemaskan negeri Cee, sehingga mereka mencari muslihat untuk menggagalkannya. Mereka berpura-pura menunjukkan persahabatan dan memuji-muji keberhasilan negeri Lo dengan mengirimkan beraneka ragam hadiah. Suatu ketika diantarkan hadiah berupa delapan puluh orang gadis penari yang telah terlatih, lengkap dengan perangkat musik serta penabuhnya dan sejumlah kereta untuk berburu lengkap dengan kuda-kudanya sebagai ‘tanda persahabatan’. Atas hadiah ini, Nabi Khongcu meminta Rajamuda Ting untuk tidak menerimanya; tetapi kepala keluarga Kwi, Kwi Hwancu diam-diam telah datang ke pasanggrahan orang-orang negeri Cee, dan kemudian mengajak Rajamuda Ting datang ke sana melihatnya. Raja Muda Ting yang semula sempat curiga, akhirnya tidak dapat mengendalikan dirinya melihat hadiah istimewa tersebut dan mulai tergoda untuk bersuka ria dengan gadis-gadis penari yang jelita dan bergembira menaiki kuda-kuda yang bagus itu untuk berburu, sehingga ia terlena dan mengabaikan tugas kewajibannya. Bahkan pada waktu melakukan upacara besar kepada Tuhan Yang Maha Esa Rajamuda Ting melakukannya dengan setengah hati. Nabi Khongcu, sebagai orang yang sangat mementingkan tegaknya lee ( kesusilaan, kewajiban) akhirnya memutuskan meletakkan jabatan dan meninggalkan Rajamuda Ting yang sudah mabuk kepayang itu. Nabi Khongcu sangat menjunjung tinggi makna ajaran Cinta Kasih. Bagi Nabi Khongcu orang yang menjunjung “Cinta Kasih, harus mampu mengendalikan diri dan pulang kepada kesusilaan. Pelaksanaannya disabdakan Nabi Khongcu sebagai berikut,”Yang tidak susila jangan dilihat, yang tidak susila jangan didengar, yang tidak susila jangan dibicarakan dan yang tidak susila jangan dilakukan”.
Sekitar tahun 246-210 sebelum Masehi Negara Tsi sempat dipimpin oleh seorang Ratu, yang sayangnya dia termasuk Ratu yang materialistik, karena mau menerima uang suap dari Raja Shi Huang Ti dan tidak bersedia bergabung dengan negara-negara lain untuk menentang ekspansi Raja Shi Huang Ti.
Pada jaman dinasti Han ( 202 sebelum Masehi – 220 Masehi) ketika bangsa Tartar dipimpin oleh seorang pemimpin yang kuat bernama Mow-Tan menyerang dinasti Han yang dipimpin oleh Liu Pang alias Kao Tsu dan hampir dapat dikalahkan. Seorang Gadis jelita bersedia menyabung nyawa demi berupaya menyelamatkan negaranya dinasti Han. Gadis cantik yang tinggal di istana itu menghadap Kaisar dan berkata,”Kirimkanlah hamba ini kepada panglima bangsa Tartar sebagai hadiah tanda perdamaian. Hamba akan memikat hati panglima ini, sehingga ia mau beristerikan hamba; dia akan mencintai hamba sedemikian rupa, sehingga permintaan hamba akan selalu dikabulkan. Hamba akan meminta kepadanya, supaya berdamai dengan Baginda…”. Maka gadis cantik ini berhias, berpakaian dan berdandan seindah-indahnya, wajahnya dihias se-bagus-bagusnya, dan memakai perhiasan kepala dari emas dan intan; kemudian dengan naik sebuah tandu dia pergi ke perkemahan orang-orang Tartar sebagai pemberian hadiah perdamaian. Di situ ia berbuat seperti yang telah dijanjikan kepada Kaisar; dan berhasil, karena Mou-Tan mengadakan perdamaian dengan Kao-Tsu. Namun dikisahkan perdamaian itu dianggap sebagai penghinaan bagi orang Han.
Peranan perempuan dalam politik ini sangat luar biasa seperti diceritakan bahwa pada Jaman Gelap ( 300 – 600 Masehi) ketika seorang Kaisar bernama Liu Tsung yang telah mempunyai banyak istana dikritik oleh seorang menterinya ketika merencanakan membangun istana khusus bagi permaisurinya bahwa maksud Kaisar itu hanya akan menghambur-hamburkan uang saja dan Kaisar murka hendak membunuh menterinya itu. “Sang permaisuri yang bijaksana itu menulis surat,”Segala bencana yang menimpa negeri kita, disebabkan oleh seorang perempuan. Saya tidak mau dikatakan, bahwa beban rakyat menjadi berat karena saya. Lebih baik saya dibunuh saja di istana ini, daripada membuat sebuah istana lagi untuk saya”. Kaisar menurut, menteri tadi tidak jadi dibunuh dan istana tidak jadi dibuat.
D.    Kedudukan Perempuan dalam Pendidikan
Menurut Kitab Lee Ki (Catatan Kesusilaan), Bab Peraturan Dalam, perempuan dan pria secara terpisah menerima pendidikan. Sejak mulai dapat berbicara, “logat dan perhiasan” yang dipakai tidak sama. Pada umur enam, diajarkan angka dan nama tempat; pada umur tujuh tahun diajarkan khasiat dan manfaat bahan-bahan makanan; pada umur sepuluh, pria harus keluar belajar, sedangkan perempuan tetap tinggal di dalam rumah belajar berbicara sopan santun, etiket menenun, menjahit, memasak, bersembahyang dan lain-lain hingga berusia lima belas. 
Menurut Chou-li (Kitab Kesusilaan dinasti Chou, pada jaman itu, di istana-istana terdapat pejabat-pejabat tinggi wanita dalam bidang keibadahan, pencatatan sejarah dan sebagainya. Kata-kata,”Ajaran empat kesusilaan ( Szû têh) pada wanita”, barangkali ditujukan pada wanita kaum bangsawan istana-istana. Empat Kesusilaan ialah :kebajikan (têh), rupa (yung), tutur-kata (yen), dan jasa (kung). Mungkin “rupa” menunjukkan sikap dan etiket, “tutur-kata” dekat pada memberi perintah, “jasa” melambangkan kemampuan memelihara ulat sutera, menenun, memasak dan sebagainya. Agaknya kaum perempuan bangsawan tidak mungkin menjadi lebih unggul daripada kaum pria dalam banyak hal, bila tidak menerima pendidikan yang sama dengan kaum pria. Walaupun kaum perempuan bangsawan menerima pendidikan di rumah, kaum pria di sekolah. Jadi hanya tempat penerimaan saja yang berbeda, tetapi kualitas pendidikan sama. Di sini nampak sudah adanya emansipasi dalam pendidikan dan hidup kemasyarakatan pada jaman itu. [1]



[1] Diskusi terbatas yang diselenggarakan Forum Kajian Agama dan Gender, Badan Penelitian dan Pengembangan Agama Departemen Agama.

0 komentar:

Posting Komentar