Responding Paper
Relasi Gender dalam Agama Konghucu
Indana Zulfa (1111034000136)
A.
Status Perempuan dalam Agama
Konghucu
Sejarah
memberikan lukisan keadaan perkembangan suatu agama, bangsa, masyarakat,
lembaga atau seseorang pada suatu masa atau jaman. Dapat memahami sejarah
berarti mengetahui dan mengerti tentang masa lampau dan perkembangannya. Sing
Jien (Nabi) Khongcu bersabda,” Orang yang setelah memahami Ajaran Lama lalu
dapat menerapkannya pada yang baharu, dia boleh dijadikan guru”. Untuk memahami
bagaimana agama Khonghucu berbicara tentang perempuan, maka wajib pula
mengetahui sejarahnya, sejak dari awal dan perkembangannya sampai
disempurnakan. Agama Khonghucu istilah aslinya disebut Ji Kau, atau Agama Ji,
yang berarti Agama bagi Yang Lembut Hati, yang terbimbing, yang terpelajar
dalam ajaran Suci. Karena peranan besar dari Nabi Khongcu dalam penyempurnaan
Agama ini, maka dunia, di mulai dari dunia Barat lebih banyak menyebutnya Agama
Khonghucu atau Konfucius.
Kong Hu Cu selalu menghindari pembicaraan mengenai
metafisika, ketuhanan, jiwa, dan berbagai hal yang ajaib. Namun ia tidak meragukan tentang adanya Tuhan Yang Maha Esa yang
dianut masyarakatnya. Bahkan ia lebih meneguhkan pemujaan terhadap leluhur,
dengan kesetiaan terhadap sanak keluarga dan penghormatan terhadap orang tua.
Ia mengajarkan betapa penting artinya penghormatan dan ketaatan istri terhadap
suami, ataupun rakyat terhadap penguasanya. Menurut Kong Hu Cu hidup ini ada
dua nilai yaitu Yen dan Li. Yen artinya cinta atau keramahtamahan dalam
hubungan dengan seseorang, sedangkan Li artinya keserangkaian antara perilaku,
ibadah, adat istiadat, tata karma dan sopan santun. Kong Hu Cu mengatakan bahwa
ada tiga hal yang menjadi tempat orang besar, yaitu kagum terhadap perintah
Tuhan, kagum terhadap orang-orang penting, dan kagum terhadap kata-kata yang
bijaksana. Orang yang tidak kagum terhadap ketiga hal tersebut atau malahan
berperilaku tidak sopan dan menghina kata-kata bijaksana adalah orang-orang yang
picik (Lun Yu 16:8). Ia berkeyakinan bahwa adanya Negara itu tak lain untuk
melayani kepentingan rakyat, bukan rakyat untuk (penguasa) Negara. Maka
penguasa pemerintahan harus member contoh suri tauladan yang moralis terhadap
rakyat dan bukan bertindak zalim. Kong Hu Cu berkata “apa yang kamu tidak suka
orang lain berbuat atas dirimu, jangan lakukan”.
Pada dasarnya, dalam komunitas pemeluk Khonghucu tidak
mengenal diskriminasi perempuan. Manakalah di dalam naskah-naskah yang
berkaitan dengan Ajaran Khonghucu dijumpai wacana-wacana yang bernada
anti-perempuan, kesemuanya itu adalah sesungguhnya bukan berasal dari Ajaran
Khonghucu dan boleh jadi karena emosi dan egoisme pada cendikiawan pria pada
waktu itu. Perlu disampaikan kitab-kitab Ajaran Khonghucu pernah mengalami
pemusnahan secara besar-besarnya pada dinasti Ch’in oleh Shih Wang-ti ( 221-209
sebelum Masehi) , dengan alasan sejarah harus dimulai dengan beliau, rakyat
hanya dapat memeluk satu aliran filsafat yaitu mashab serbahukum (legalisme)
yang diyakininya. Ketidaksetaraan perempuan dalam agama Konghucu berkisar pada
keluarga, yang pertama seorang anak perempuan harus tunduk kepada ayahnya,
kedua seorang istri harus patuh kepada suaminya, dan yang ketiga seorang ibu
yang tunduk kepada anak lelakinya. Namun ada yang berpendapat bahwa pernyataan
tersebut bukanlah sebuah bias gender, karena itu adalah suatu keharusan bagi
perempuan dalam keluarga harus tunduk kepada seorang lelaki.
B. Kedudukan Perempuan dalam Hubungan Perjodohan atau Perkawinan
Di dalam kitab Sanjak ( Shi-Ching, bagian Chiang
Chung-tsu, Sanjak 3, berjudul ,”Menjinjing Busana) terdapat sanjak yang
memperlihatkan bagaimana seorang perempuan berupaya mempertahankan martabatnya
di hadapan laki-laki . Demikian
bunyinya,” Chung, kekasihku yang terhormat, kumohon janganlah bertindak
demikian, melompat masuk ke kebunku, hingga mematahkan dahan pohon-cendanaku.
Kerusakan itu dapat kuabaikan, tetapi bila ada seorang sekitar mengetahui
perbuatanmu itu, mereka akan bertanya:’Gerangan apakah yang membawa pemuda itu
ke sana? Kata-kata mereka inilah yang kukhawatirkan. Engkau, Chung mendapat
jantung-hatiku; tetapi umpatcaci merekalah yang akan mencemarkan daku”.
Sanjak di atas menunjukkan kepada kita bahwa meskipun
wanita bebas-merdeka pada zaman itu, tetapi mereka tidak menyetujui percintaan
bebas tanpa batas-batas kesusilaan.
Pada Sanjak 6 yang terdapat pada Bagian Wei (Sanjak Wei),
berjudul Mang ( Bajingan) berbunyi sebagai berikut (penggalan kecil saja yang
dikutip), ”Tetapi engkau tak mengenal tebing maupun pantai, nafsumu tak pernah
mengingkari hal ini. Kembali pada masa remajaku yang bahagia, tatkala rambutku
masih terikat pada pita, dengan tak berpikir panjang lebar, engkau kuikuti; aku
tak mengerti, bahwa janji setia dan senyum manismu ternyata palsu belaka.
Bagiku engkau mengucapkan sumpah suci, siapa tahu, kini kau ingkari semua. Tak ku sangka engkau begitu jahanam. Sekarang aku menyesal tanpa
guna”.
Sanjak
di atas menggambarkan kecaman perempuan secara terbuka terhadap perlakuan
sewenang-wenang oleh kaum pria terhadap perempuan. Tentu mengharukan sekali
seorang perempuan mengungkapkan secara terus terang perlakuan yang diterimanya
bagaikan “habis manis sepah dibuang” oleh pria hidung belang.
Sedangkan pada Kitab Yak King (Kitab Perubahan) ada
wacana sebagai berikut,”…. tahan dalam kebajikan dengan benar-teguh: untuk
seorang isteri adalah rahmat..” ; Pula, “rahmat karena isteri yang benar-teguh
menunjuk sifat mengikuti yang satu sampai akhir hayatnya” . Sebaliknya bila seorang perempuan mengadakan hubungan gelap dengan
banyak pria, dianggap tidak mendapat rahmat. Kitab Kejadian berkata,”wanita
perkasa, bukan untuk menjadi isteri”. “….Begitu
seorang anak laki-laki atau perempuan lahir, orang tuanya tentu berharap kelak
ia memperoleh seorang isteri/ suami. Hati orang tua yang demikian ini semua
orang mempunyainya. Tetapi kalau tanpa menanti perkenan orang tuanya,....
melainkan diam-diam saling mengintip dari celah-celah dinding lalu memlompati
pagar dan lari, niscaya orang tuanya, bahkan orang seluruh negeri akan
memandang rendah perbuatan mereka….”
Nabi Khongcu sangat menaruh hormat pada perempuan,
khususnya terhadap Lembaga Perkawinan, seperti dapat kita ikuti pada teks-teks
berikut:
Pada Kitab Lee Ki (Catatan Kesusilaan) disebutkan, ”Pernikahan ialah pangkal peradaban sepanjang jaman. Dia bermaksud memadukan dan mengembangkan benih kebaikan dua jenis manusia yang berlainan keluarga untuk melanjutkan Ajaran Suci para Nabi. Ke atas untuk memuliakan Firman Tuhan Yang Maha Esa, mengabdi kepada para leluhur dan ke bawah untuk meneruskan keturunan”.
Pada Kitab Lee Ki (Catatan Kesusilaan) disebutkan, ”Pernikahan ialah pangkal peradaban sepanjang jaman. Dia bermaksud memadukan dan mengembangkan benih kebaikan dua jenis manusia yang berlainan keluarga untuk melanjutkan Ajaran Suci para Nabi. Ke atas untuk memuliakan Firman Tuhan Yang Maha Esa, mengabdi kepada para leluhur dan ke bawah untuk meneruskan keturunan”.
Di
dalam Kitab Sanjak tertulis,”Keselarasan hidup bersama anak isteri itu laksana
alat musik yang ditabuh harmonis. Kerukunan diantara kakak dan adik itu
membangun damai dan bahagia. Maka demikianlah hendaknya engkau berbuat di dalam
rumah tanggamu; bahagiakanlah isteri dan anak-anakmu”.
Demikian pula Bingcu (Mencius) sebagai seorang
rasul/penegak di dalam Agama Khonghucu, seperti halnya Nabi Khongcu juga adalah
orang beruntung mempunyai seorang Ibu yang sangat memperhatikan pendidikan,
seperti diceritakan berikut ini
Diceritakan ketika Rasul Bingcu ( Mencius) masih kecil ia sempat meniru kelakuan anak yang nakal, yaitu beberapa kali ia berkelahi dan membolos dan pada suatu hari ia sekonyong-konyong tiba di rumah sebelum waktu bersekolah berakhir, karena ia sudah jenuh mendengarkan pelajaran di sekolahnya. Ibunya yang sedang sibuk menenun, menanyakan mengapa ia sudah pulang sebelum waktunya. Setelah Bingcu(Mencius) mengatakan sebab-sebabnya, maka ibunya mengambil gunting dan dipotongnya kain yang sedang ditenun itu menjadi dua helai. Melihat kejadian itu, Mencius menjerit,”O, mengapa kain yang bagus itu ibu gunting menjadi dua?”. Ibunya menjawab,”Anakku yang manis, mengapa aku berbuat seperti yang baru saja kausaksikan?. Jika kau tinggalkan buku-bukumu, maka itu sama artinya se-akan-akan kau memotong kemajuan hidupmu sendiri, seperti aku telah menggunting kain tenunku yang bagus itu”. Air mata Bingcu meleleh dan sejak itu Mencius tak pernah lagi meninggalkan sekolah, dan ia kemudian menjadi orang yang sangat pandai dan menjadi penegak ajaran Khonghucu.
Diceritakan ketika Rasul Bingcu ( Mencius) masih kecil ia sempat meniru kelakuan anak yang nakal, yaitu beberapa kali ia berkelahi dan membolos dan pada suatu hari ia sekonyong-konyong tiba di rumah sebelum waktu bersekolah berakhir, karena ia sudah jenuh mendengarkan pelajaran di sekolahnya. Ibunya yang sedang sibuk menenun, menanyakan mengapa ia sudah pulang sebelum waktunya. Setelah Bingcu(Mencius) mengatakan sebab-sebabnya, maka ibunya mengambil gunting dan dipotongnya kain yang sedang ditenun itu menjadi dua helai. Melihat kejadian itu, Mencius menjerit,”O, mengapa kain yang bagus itu ibu gunting menjadi dua?”. Ibunya menjawab,”Anakku yang manis, mengapa aku berbuat seperti yang baru saja kausaksikan?. Jika kau tinggalkan buku-bukumu, maka itu sama artinya se-akan-akan kau memotong kemajuan hidupmu sendiri, seperti aku telah menggunting kain tenunku yang bagus itu”. Air mata Bingcu meleleh dan sejak itu Mencius tak pernah lagi meninggalkan sekolah, dan ia kemudian menjadi orang yang sangat pandai dan menjadi penegak ajaran Khonghucu.
Dari cerita mengenai kehidupan Nabi Khongcu dan Bingcu
dapat diketahui bahwa ibu mereka adalah orang biasa saja, tetapi dengan
kesederhanaan dan cinta kasihnya yang tulus telah mampu melakukan karya besar. Dengan demikian jelaslah bagi kita tidak ada jaminan bila kedua
orang tua berpendidikan tinggi, maka otomatis anaknya pasti seorang sarjana
atau orang yang berbudi luhur. Pendidikan Watak Sejati sekali-kali tidak dapat
mengandalkan sekolah, tetapi haruslah dilakukan di rumah/ keluarga dengan
memberi teladan yang benar dan memberi lingkungan yang tepat.
Penghargaan
Mencius terhadap perempuan dan lembaga perkawinan tercermin dari ayat berikut
ini:
“Mencius said,”That male and female should dwell together is the
greatest of human relations” ( Bingcu berkata,” hal laki-laki dan perempuan
hidup berkeluarga adalah hubungan yang terbesar di dalam hidup manusia”).
Pada bagian lain dalam Kitab Bingcu dikatakan,”… Setelah
seorang anak laki-laki menjalankan upacara mengenakan topi ( tanda sudah
akil-baliq), sang Bapa memberi petuah-petuahnya. Seorang
anak perempuan ketika akan berangkat menikah, sang ibu memberi
petuah-petuahnya. Ketika akan berangkat, diantar sampai pintu lalu
dinasehati:”Anakku yang berangkat menikah, berlakulah hormat, berlakulah
hati-hati, janganlah berlawanan-lawanan dengan suamimu”. Memegang teguh sifat
menurut di dalam kelurusan itulah Jalan Suci seorang perempuan”.
Di
dalam Kitab Tengah Sempurna ditegaskan bahwa,”Jalan Suci seorang Kuncu pada
dasarnya terdapat dalam hati tiap pria dan perempuan dan pada puncaknya
meliputi di mana pun diantara langit dan bumi”.
“Maka seorang Kuncu ( Pria maupun Perempuan,
tambahan dari Pen.) tidak boleh tidak membina diri; bila berhasrat membina
diri, tidak boleh tidak mengabdi kepada orang tua; bila berhasrat mengabdi
kepada orang tua, tidak boleh tidak mengenal manusia, dan bila berhasrat
mengenal manusia, tidak boleh tidak mengenal kepada Thian ( Tuhan Yang Mahaesa)”.
Begitu pentingnya makna hubungan suami-isteri tersebut
sehingga tidak dapat diperkirakan, karena dari merekalah berawalnya semua
hubungan kemanusiaan. Kemudian, anak
yang lahir dari perkawinan suami-isteri dituntut untuk menaruh hormat (
berbakti) kepada kedua orang tuanya. Seperti tertulis dalam kitab Hau King
(Bakti),”Sesungguhnya Laku Bakti itu ialah pokok Kebajikan, darinya ajaran
Agama berkembang. Tubuh, anggota badan, rambut, dan kulit diterima dari ayah
dan bunda. Perbuatannya tidak berani membiarkannya rusak dan luka, itulah
permulaan/dasar laku bakti. Menegakkan diri hidup melaksanakan Jalan Suci,
meninggalkan nama baik di jaman kemudian, sehingga memuliakan ayah-bunda,
itulah akhir laku bakti”.
Pada ayat lain dalam Kitab Hau King ( Bakti) tertulis,”Di dalam mengabdi kepada ayah hendaknya ada rasa cinta seperti mengabdi kepada ibu. Di dalam mengabdi kepada ayah hendaknya ada rasa hormat seperti mengabdi kepada pemimpin. Maka, dari ibu diambil rasa cinta dan dari pemimpin diambil rasa hormat…..”
Pada ayat lain dalam Kitab Hau King ( Bakti) tertulis,”Di dalam mengabdi kepada ayah hendaknya ada rasa cinta seperti mengabdi kepada ibu. Di dalam mengabdi kepada ayah hendaknya ada rasa hormat seperti mengabdi kepada pemimpin. Maka, dari ibu diambil rasa cinta dan dari pemimpin diambil rasa hormat…..”
Dari ayat-ayat di atas terlihat jelas dikehendaki
terpeliharanya hubungan yang harmonis antara suami-isteri, sesama saudara tidak
memandang jender, sehingga dapat dibangun kehidupan sosial yang saling
menghargai peranan satu sama yang lainnya, mengingat manusia diciptakan oleh
Tuhan Yang Mahaesa di dunia ini memiliki arti dan fungsinya masing-masing.
C. Peranan Perempuan dalam
Kehidupan Politik atau Bernegara
Di
dalam Kitab Bingcu diceritakan pada Jaman Raja Bu ( pendiri dinasti Chou ( 1122
– 255 s.M.) diantara 10 orang menteri yang cakap terdapat seorang perempuan.
Hal ini menunjukkan sesungguhnya dalam bidang pendidikan kualitas pendidikan
yang diberikan baik kepada pria maupun perempuan tidak terdapat pembedaan,
sehingga memungkinkan perempuan menduduki tempat terhormat.
Di
lain pihak ternyata telah terjadi pula perempuan dimanfaatkan untuk mencapai
kepentingan politik tertentu. Sekitar tahun 500 sebelum Masehi ketika Nabi
Khongcu menjabat sebagai Perdana Menteri merangkap menteri Kehakiman Negeri Lo
yang bersama-sama Raja Lo Ting Kong berhasil menertibkan kekuasaan
pemerintahan; kesejahteraan dapat ditegakkan dan dikembangkan serta ajaran
agama yang benar ditaati dan diselenggarakan. Melihat keberhasilan Nabi dalam
menyelenggarakan pemerintahan negeri Lo, ternyata sangat mencemaskan negeri
Cee, sehingga mereka mencari muslihat untuk menggagalkannya. Mereka
berpura-pura menunjukkan persahabatan dan memuji-muji keberhasilan negeri Lo
dengan mengirimkan beraneka ragam hadiah. Suatu ketika diantarkan hadiah berupa
delapan puluh orang gadis penari yang telah terlatih, lengkap dengan perangkat
musik serta penabuhnya dan sejumlah kereta untuk berburu lengkap dengan
kuda-kudanya sebagai ‘tanda persahabatan’. Atas hadiah ini, Nabi Khongcu
meminta Rajamuda Ting untuk tidak menerimanya; tetapi kepala keluarga Kwi, Kwi
Hwancu diam-diam telah datang ke pasanggrahan orang-orang negeri Cee, dan
kemudian mengajak Rajamuda Ting datang ke sana melihatnya. Raja Muda Ting yang
semula sempat curiga, akhirnya tidak dapat mengendalikan dirinya melihat hadiah
istimewa tersebut dan mulai tergoda untuk bersuka ria dengan gadis-gadis penari
yang jelita dan bergembira menaiki kuda-kuda yang bagus itu untuk berburu,
sehingga ia terlena dan mengabaikan tugas kewajibannya. Bahkan pada waktu
melakukan upacara besar kepada Tuhan Yang Maha Esa Rajamuda Ting melakukannya
dengan setengah hati. Nabi Khongcu, sebagai orang yang sangat mementingkan
tegaknya lee ( kesusilaan, kewajiban) akhirnya memutuskan meletakkan jabatan
dan meninggalkan Rajamuda Ting yang sudah mabuk kepayang itu. Nabi Khongcu
sangat menjunjung tinggi makna ajaran Cinta Kasih. Bagi Nabi Khongcu orang yang
menjunjung “Cinta Kasih, harus mampu mengendalikan diri dan pulang kepada
kesusilaan. Pelaksanaannya disabdakan Nabi Khongcu sebagai berikut,”Yang tidak
susila jangan dilihat, yang tidak susila jangan didengar, yang tidak susila
jangan dibicarakan dan yang tidak susila jangan dilakukan”.
Sekitar tahun 246-210 sebelum Masehi Negara Tsi sempat dipimpin oleh seorang Ratu, yang sayangnya dia termasuk Ratu yang materialistik, karena mau menerima uang suap dari Raja Shi Huang Ti dan tidak bersedia bergabung dengan negara-negara lain untuk menentang ekspansi Raja Shi Huang Ti.
Sekitar tahun 246-210 sebelum Masehi Negara Tsi sempat dipimpin oleh seorang Ratu, yang sayangnya dia termasuk Ratu yang materialistik, karena mau menerima uang suap dari Raja Shi Huang Ti dan tidak bersedia bergabung dengan negara-negara lain untuk menentang ekspansi Raja Shi Huang Ti.
Pada jaman dinasti Han ( 202 sebelum Masehi – 220 Masehi)
ketika bangsa Tartar dipimpin oleh seorang pemimpin yang kuat bernama Mow-Tan
menyerang dinasti Han yang dipimpin oleh Liu Pang alias Kao Tsu dan hampir
dapat dikalahkan. Seorang Gadis
jelita bersedia menyabung nyawa demi berupaya menyelamatkan negaranya dinasti
Han. Gadis cantik yang tinggal di istana itu menghadap Kaisar dan
berkata,”Kirimkanlah hamba ini kepada panglima bangsa Tartar sebagai hadiah
tanda perdamaian. Hamba akan memikat hati panglima ini, sehingga ia mau
beristerikan hamba; dia akan mencintai hamba sedemikian rupa, sehingga
permintaan hamba akan selalu dikabulkan. Hamba akan meminta kepadanya, supaya
berdamai dengan Baginda…”. Maka gadis cantik ini berhias, berpakaian dan
berdandan seindah-indahnya, wajahnya dihias se-bagus-bagusnya, dan memakai
perhiasan kepala dari emas dan intan; kemudian dengan naik sebuah tandu dia
pergi ke perkemahan orang-orang Tartar sebagai pemberian hadiah perdamaian. Di
situ ia berbuat seperti yang telah dijanjikan kepada Kaisar; dan berhasil,
karena Mou-Tan mengadakan perdamaian dengan Kao-Tsu. Namun dikisahkan
perdamaian itu dianggap sebagai penghinaan bagi orang Han.
Peranan perempuan dalam politik ini sangat luar biasa
seperti diceritakan bahwa pada Jaman Gelap ( 300 – 600 Masehi) ketika seorang
Kaisar bernama Liu Tsung yang telah mempunyai banyak istana dikritik oleh
seorang menterinya ketika merencanakan membangun istana khusus bagi
permaisurinya bahwa maksud Kaisar itu hanya akan menghambur-hamburkan uang saja
dan Kaisar murka hendak membunuh menterinya itu. “Sang
permaisuri yang bijaksana itu menulis surat,”Segala bencana yang menimpa negeri
kita, disebabkan oleh seorang perempuan. Saya tidak mau dikatakan, bahwa beban
rakyat menjadi berat karena saya. Lebih baik saya dibunuh saja di istana ini,
daripada membuat sebuah istana lagi untuk saya”. Kaisar menurut, menteri tadi
tidak jadi dibunuh dan istana tidak jadi dibuat.
D. Kedudukan Perempuan dalam
Pendidikan
Menurut
Kitab Lee Ki (Catatan Kesusilaan), Bab Peraturan Dalam, perempuan dan pria
secara terpisah menerima pendidikan. Sejak mulai dapat berbicara, “logat dan
perhiasan” yang dipakai tidak sama. Pada umur enam, diajarkan angka dan nama
tempat; pada umur tujuh tahun diajarkan khasiat dan manfaat bahan-bahan
makanan; pada umur sepuluh, pria harus keluar belajar, sedangkan perempuan
tetap tinggal di dalam rumah belajar berbicara sopan santun, etiket menenun,
menjahit, memasak, bersembahyang dan lain-lain hingga berusia lima belas.
Menurut
Chou-li (Kitab Kesusilaan dinasti Chou, pada jaman itu, di istana-istana
terdapat pejabat-pejabat tinggi wanita dalam bidang keibadahan, pencatatan
sejarah dan sebagainya. Kata-kata,”Ajaran empat kesusilaan ( Szû têh) pada
wanita”, barangkali ditujukan pada wanita kaum bangsawan istana-istana. Empat
Kesusilaan ialah :kebajikan (têh), rupa (yung), tutur-kata (yen), dan jasa
(kung). Mungkin “rupa” menunjukkan sikap dan etiket, “tutur-kata” dekat pada
memberi perintah, “jasa” melambangkan kemampuan memelihara ulat sutera,
menenun, memasak dan sebagainya. Agaknya kaum perempuan bangsawan tidak mungkin
menjadi lebih unggul daripada kaum pria dalam banyak hal, bila tidak menerima
pendidikan yang sama dengan kaum pria. Walaupun kaum perempuan bangsawan
menerima pendidikan di rumah, kaum pria di sekolah. Jadi hanya tempat
penerimaan saja yang berbeda, tetapi kualitas pendidikan sama. Di sini nampak
sudah adanya emansipasi dalam pendidikan dan hidup kemasyarakatan pada jaman
itu. [1]
[1] Diskusi terbatas yang diselenggarakan
Forum Kajian Agama dan Gender, Badan
Penelitian dan Pengembangan Agama Departemen Agama.
0 komentar:
Posting Komentar