Senin, 24 November 2014

Relasi Gender dalam Agama Kristen


Responding Paper
Relasi gender dalam agama Kristen
Indana Zulfa (1111034000136)

A.    Kesetaraan Perempuan dalam Perjanjian Baru
Perempuan dalam perjanjian baru disebutkan Di dalam alkitab pada Kejadian 1:27 "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka" disini berarti bahwa Allah menciptakan manusia baik perempuan dan laki-laki dengan derajat yang sama dan menurut gambar Allah, di samping itu juga menekankan bahwa manusia itu sama hakekatnya dengan Sang Pencipta. Hal ini berarti bahwa Allah menciptakan manusia sebagai makluk yang mulia, kudus dan berakal budi, sehingga manusia bisa berkomunikasi dengan Allah, dan layak untuk menerima mandat dari Allah untuk menjadi pemimpin dari segala ciptaan Allah. Dari ungkapan "Segambar" dengan Allah ini yang berarti dimiliki tidak hanya laki-laki saja akan tetapi juga perempuan, dan keduanya mempunyai status yang sama. Oleh karena itu tidak dibenarkan adanya diskriminasi atau dominasi dalam bentuk apapun hanya dikarenakan perbedaan jenis kelamin.
B.     Ketidaksetaraan Perempuan dalam  Perjanjian Baru
Munculnya diskriminasi atau dominasi antara perempuan dan laki-laki adalah Alkitab mencatat bahwa hubungan yang timpang antara laki-laki dan perempun itu terjadi setelah manusia memakan buah yang dilarang oleh Allah (Kej. 3:12dst). Adam mempersalahkan Hawa sebagai pembawa dosa, sedangkan Hawa mempersalahkan ular sebagai penggoda. Tetapi akhirnya Allah menghukum Adam. Adam dihukum bukan hanya karena Adam ikut-ikutan makan buah yang Allah larang, tetapi juga karena ketika Hawa berdialog dengan ular sampai memetik buah, Adam ada bersama Hawa. Adam hadir di sana tetapi ia bungkam. Dengan kata lain, perbuatan Hawa sebenarnya mendapat restu dari Adam. Karena itu kesalahan ada pada kedua pihak. Itu berarti bahwa Adam dan kaum laki-laki tidak bisa menghakimi Hawa dan kaumnya sebagai pembawa dosa. Dalam perkembangan selanjutnya peran serta perempuan selalu dibatasi, sehingga hal ini yang menciptakan dominasi laki-laki terhadap perempuan. Dalam berbagai peran, perempuan selalu dibatasi.
Kita lihat di Alkitab yaitu pada masa hidup Yesus, diskriminasi dan dominasi laki-laki atas perempuan masih tetap berlangsung. Ketika Yesus mulai mengangkat tugas-Nya, Ia bersikap menentang diskriminasi dan dominasi itu. Suatu ketika pemimpin-pemimpin agama Yahudi menangkap seorang perempuan yang kedapatan berzinah lalu dibawa kepada Yesus. Mereka minta supaya perempuan ini dihukum rajam sesuai aturan Yahudi. Tetapi Yesus tidak peduli terhadap permintaan mereka. Pasalnya, mereka menangkap perempuan itu tapi tidak menangkap laki-laki yang tidur dengan dia. Yesus berkata kepada mereka: "Barangsiapa yang tidak berdosa hendaknya ia yang pertama kali merajam perempuan ini". Tidak ada yang berani melakukannya. Akhirnya Yesus menyuruh perempuan itu pulang dengan nasihat supaya tidak berbuat dosa lagi (Yoh 8:2-11).
C.    Status dan Peran Perempuan dalam Perjanjian Baru
Kondisi kaum perempuan dalam agama Kristen tidak lebih baik dibandingkan nasib mereka dalam agama Yahudi. Agama Kristen memberikan sedikit perhatian terhadap isu-isu tentang perempuan. Lahirnya agama Kristen tidak memperbaiki kondisi mereka maupun memberikan hak-hak yang patut mereka peroleh. Agama Kristen tidak membebaskan perempuan dari cengkraman otoritas kaum laki-laki ataupun melindungi mereka dari penindasan dan kezaliman laki-laki. Sebaliknya, agama Kristen memaksa perempuan untuk tunduk pada otoritas kaum laki-laki dan menaati mereka secara mutlak. Paulus berkata : “wahai para istri, patuhlah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, kerena suami adalah pemimpin istrinya sebagaimana Kristus adalah pemimpin gereja.”
Yesus merobohkan kebiasaan dan hukum Yahudi yang telah berabad-abad diperaktekkan. Ia memperlakukan perempuan setara dengan laki-laki. Sikap dan pandangannya menunjukkan bahwa Yesus menghormati kaum perempuan. Sabda-Nya: Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku (Mat 12:50).
Dalam Lukas 8:1-3, “Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan (Tuhan). Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka”.
Demikian pula apabila kita memperhatikan bagaimana sikap Yesus terhadap perempuan. Yesus memperlakukan perempuan secara positif, misalnya dalam Lukas 7:36-50, diceritakan bahwa Yesus sangat memperhatikan dan menerima secara positif perempuan berdosa yang datang kepadanya untuk mengurapi kakinya dengan minyak narwastu. Hal itu sangat bertentangan dengan sikap para laki-laki yang juga hadir di tempat yang sama. Laki-laki cenderung menolak dan menyalahkan perempuan berdosa yang meminyaki kaki Yesus. sangat menarik sikap Yesus jika dibanding dengan laki-laki yang lain. Nampak bahwa sebagai laki-laki Yesus tidak memanfaatkan posisinya untuk mendominasi perempuan.
Dalam Petrus berkata dalam surat pertamanya : “Wahai para budak, patuhlah kepada tuan-tuanmu dengan segala hormat, tidak hanya kepada mereka yang bersikap baik dan penuh perhatian  tetapi juga pada mereka yang berlaku kasar.”
Di samping itu ada juga surat-surat Paulus kepada beberapa jemaat di daerah pelayanannya yang menunjuk adanya dualisme. Di satu pihak Paulus mengatakan bahwa seseorang tidak boleh dibedakan dari kebangsaannya (Yahudi dan Yunani). Seseorang juga tidak boleh dibedakan dari statusnya (budak atau tuan; laki-laki atau perempuan), semuanya sama di dalam Kristus. Namun, di pihak lain secara jelas tampak dibedakannya status antara laki-laki dan perempuan. Istri harus hormat dan tunduk pada suaminya, sebab suami adalah kepala dari istri.
D.    Status dan Peran Perempuan dalam Perspektif Teolog Kristen
Bagian Alkitab yang paling sering dikutip oleh teolog-teolog feminis dan diklaim sebagai dasar teologi mereka, yang juga dikenal sebagai magna carta of humanity adalah Galatia 3:2839 yang berbunyi: “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”  Galatia 3:28 dipandang sebagai ayat yang membebaskan wanita dari penindasan, dominasi dan subordinasi pria.  Bagian-bagian lain yang juga berbicara tentang kesederajatan adalah: Kejadian 34:12; Keluaran 21:7, 22:17, Imamat 12:1-5; Ulangan 24:1-4; 1 Samuel 18:25 yang berbicara bahwa wanita dan pria memiliki status sosial yang sama; Hakim-hakim 4:4, 5:28-29; 2 Samuel 14:2, 20:16; 2 Raja-raja 11:3, 22:14; Nehemia 6:14, adalah ayat-ayat yang memperlihatkan bahwa wanita memiliki tempat dalam kehidupan religius dan sosial bangsa Israel, kecuali dalam hal keimaman; sedangkan dalam Kejadian 1:27 dikatakan bahwa wanita dan pria adalah makhluk yang sama-sama diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.  Berdasarkan penafsiran terhadap ayat-ayat di atas khususnya Galatia 3:28, para feminis menyimpulkan bahwa Paulus dengan jelas mengukuhkan kesetaraan antara pria dan wanita dalam komunitas Kristen; pria dan wanita memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang sama baik di gereja maupun dalam rumah tangga.  Kesimpulan lain dari penafsiran ini ialah bahwa tujuan panggilan Kristen adalah kemerdekaan.  Selain itu, di dalam usaha menelaah sejarah kaum wanita di dalam Alkitab, teolog-teolog feminis tidak hanya menemukan ide tentang kesederajatan pria dan wanita.  Di dalam Alkitab mereka ternyata menemukan bahwa Allah orang Kristen bukan Allah yang paternal; dari sejumlah ayat yang terdapat di Alkitab mereka menemukan bukti-bukti yang mendukung konsep Allah yang maternal.  Itulah sebabnya sebagian teolog feminis menuntut agar Allah tidak hanya disebut sebagai Bapa tetapi juga Ibu. Secara tajam mereka pun mengkritik rumusan baptisan yang berbunyi: “dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.”
E.     Partisipasi Perempuan di dalam Gereja
Di lingkungan agama kristen, memang masih cukup banyak penindasan terhadap kaum perempuan. Kaum perempuan tidak mempunyai hak yang sama untuk ikut memilih anggota majlis Gereja, apalagi menduduki jabatan itu. Kaum perempuan hanya mempunyai hak untuk memilih, tetapi belum berhak untuk menduduki jabatan di dalam Gereja. Meskipun ada anggota majelis Gereja yang berasal dari kaum perempuan, itupun jumlahnya masih sangat terbatas dan langka. Jadi, memang secara kelembagaan, penghargaan terhadap kesetaraan laki-laki dan perempuan masih diabaikan dan perlu dipertanyakan.
Agama Kristen menganggap perempuan sebagai sumber kejahatan. Mereka percaya bahwa setiap perempuan bersalah melakukan dosa asal dan dia bertanggung-jawab atas pengusiran Adam dari surga. Kisah Adam dan Hawa adalah penyebab utama penindasan kaum perempuan di dalam agama Kristen. ‘Tertullian’ percaya bahwa kaum perempuan adalah ‘Pasangan Lucifer’. Bukankah perempuan mentaati setan dan menentang Tuhan? Teori yang dikembangkan dan dijelaskan oleh Tertullian ini menyebabkan terjadinya penindasan dan penghinaan terhadap perempuan Kristen selama beberapa abad.
Selain itu, perempuan diharuskan menunjukkan prilaku tertentu di luar dan di dalam Gereja, dan Paulus secara tegas menganjurkan hal berikut — kalian kaum perempuan tidak boleh berbicara di dalam Gereja, karena mereka tidak berhak untuk berbicara dan jika kaum perempuan ingin belajar, maka seharusnya atau kalau perlu kaum perempuan harus bertanya terlebih dahulu kepada suaminya di rumah, dan jika hal itu tidak dilakukan oleh kaum perempuan. Hal ini dikarenakan sangat memalukan jika seorang perempuan berbicara di dalam Gereja”.
F.     Peran Teologi Feminis Kristen dalam Gerakan Reformasi Sosial Keagamaan untuk Kesetaraan Gender Abad ke 20
Pada abad pertengahan kaum wanita mulai menyadari bahwa mereka dimarginalkan dalam urusan gereja dan masyarakat; kesempatan yang mereka miliki sangat terbatas dan tempat yang tersedia bagi mereka hanyalah dalam rumah tangga.  Kesadaran akan keadaan ini mulai membawa sedikit angin perubahan.  Sejumlah wanita tampil sebagai penulis-penulis spiritual dan mistik pada masa ini. Beberapa karya tulis mereka menunjukkan adanya pengertian yang mendalam tentang isu-isu filsafat.  Hanya karya tulis tersebut tidak dalam bentuk seperti tulisan para teolog gereja tetapi lebih bersifat kontemplatif yang memperlihatkan pendekatan mereka terhadap masalah-masalah kehidupan, di mana kunci jawabannya mereka cari di dalam hal-hal spiritual. Keadaan kaum wanita secara perlahan-lahan mengalami sedikit perubahan pada zaman Pencerahan. Semangat abad Pencerahan memberi dampak besar bagi bangkitnya para wanita terutama di Eropa.  Beberapa wanita tampil ke permukaan dan melahirkan karya tulis ilmiah tentang wanita.  Gagasan kesetaraan wanita dengan pria dituangkan dalam tulisan-tulisan mereka dalam bentuk esai, disertasi dan sebagainya.
Pada abad berikutnya muncul beberapa wanita terkemuka yang memberikan kontribusi signifikan dalam bidang sains dan filsafat; sebagian lainnya memainkan peran penting di bidang seni, pendidikan dan politik.  Gerakan ini makin terasa pada abad kedua puluh khususnya di Barat.  Di Amerika Serikat yang menjadi katalisator gerakan wanita modern adalah karya monumental Betty Friedan, The Feminine Mystique (1963) yang memberikan pengaruh yang sangat kuat bagi masyarakat di negara tersebut.  Pengaruhnya dapat disejajarkan dengan karya Charles Darwin, The Origin of the Species. Sejak saat itu gerakan ini seolah tak terbendung lagi.  Kini gerakan feminisme dapat kita jumpai di belahan bumi mana pun, sehingga tidak heran jika kita mengenal adanya black feminist theology di Afrika, feminis Islam di Indonesia, feminis Yahudi dan sebagainya.
Teologi feminis lahir sebagai reaksi protes terhadap dominasi dan penindasan terhadap kaum wanita yang berlangsung di dalam dan di luar gereja selama berabad-abad.  Teolog-teolog feminis sendiri yakin bahwa pendorong gerakan mereka berakar dari pengajaran PB tentang bagaimana seharusnya orang Kristen berelasi satu dengan yang lain.  Model relasi orang Kristen, khususnya pria dan wanita tidak bersifat hierarki melainkan kesederajatan yang sempurna dan tidak boleh ada lagi peran dalam masyarakat, gereja ataupun di rumah yang berdasar pada gender.



0 komentar:

Posting Komentar