Responding Paper
Relasi gender dalam agama Kristen
Indana Zulfa (1111034000136)
A.
Kesetaraan Perempuan dalam Perjanjian Baru
Perempuan dalam perjanjian baru disebutkan Di dalam
alkitab pada Kejadian 1:27 "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya,
menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya
mereka" disini berarti bahwa Allah menciptakan manusia baik perempuan dan
laki-laki dengan derajat yang sama dan menurut gambar Allah, di samping itu
juga menekankan bahwa manusia itu sama hakekatnya dengan Sang Pencipta. Hal ini
berarti bahwa Allah menciptakan manusia sebagai makluk yang mulia, kudus dan
berakal budi, sehingga manusia bisa berkomunikasi dengan Allah, dan layak untuk
menerima mandat dari Allah untuk menjadi pemimpin dari segala ciptaan Allah. Dari ungkapan "Segambar" dengan Allah ini yang berarti
dimiliki tidak hanya laki-laki saja akan tetapi juga perempuan, dan keduanya
mempunyai status yang sama. Oleh karena itu tidak dibenarkan adanya
diskriminasi atau dominasi dalam bentuk apapun hanya dikarenakan perbedaan
jenis kelamin.
B.
Ketidaksetaraan Perempuan dalam
Perjanjian Baru
Munculnya diskriminasi atau dominasi antara
perempuan dan laki-laki adalah Alkitab mencatat bahwa hubungan yang timpang
antara laki-laki dan perempun itu terjadi setelah manusia memakan buah yang
dilarang oleh Allah (Kej. 3:12dst). Adam
mempersalahkan Hawa sebagai pembawa dosa, sedangkan Hawa mempersalahkan ular
sebagai penggoda. Tetapi akhirnya Allah menghukum Adam. Adam dihukum bukan
hanya karena Adam ikut-ikutan makan buah yang Allah larang, tetapi juga karena
ketika Hawa berdialog dengan ular sampai memetik buah, Adam ada bersama Hawa.
Adam hadir di sana tetapi ia bungkam. Dengan kata lain, perbuatan Hawa
sebenarnya mendapat restu dari Adam. Karena itu kesalahan ada pada kedua pihak.
Itu berarti bahwa Adam dan kaum laki-laki tidak bisa menghakimi Hawa dan
kaumnya sebagai pembawa dosa. Dalam perkembangan selanjutnya peran serta
perempuan selalu dibatasi, sehingga hal ini yang menciptakan dominasi laki-laki
terhadap perempuan. Dalam berbagai peran, perempuan selalu dibatasi.
Kita
lihat di Alkitab yaitu pada masa hidup Yesus, diskriminasi dan dominasi
laki-laki atas perempuan masih tetap berlangsung. Ketika Yesus mulai mengangkat
tugas-Nya, Ia bersikap menentang diskriminasi
dan dominasi itu. Suatu ketika pemimpin-pemimpin agama Yahudi menangkap seorang
perempuan yang kedapatan berzinah lalu dibawa kepada Yesus. Mereka minta supaya
perempuan ini dihukum rajam sesuai aturan Yahudi. Tetapi Yesus tidak peduli
terhadap permintaan mereka. Pasalnya, mereka menangkap perempuan itu tapi tidak
menangkap laki-laki yang tidur dengan dia. Yesus berkata kepada mereka:
"Barangsiapa yang tidak berdosa hendaknya ia yang pertama kali merajam
perempuan ini". Tidak ada yang berani melakukannya. Akhirnya Yesus
menyuruh perempuan itu pulang dengan nasihat supaya tidak berbuat dosa lagi
(Yoh 8:2-11).
C.
Status dan Peran Perempuan dalam Perjanjian Baru
Kondisi
kaum perempuan dalam agama Kristen tidak lebih baik dibandingkan nasib mereka
dalam agama Yahudi. Agama Kristen memberikan sedikit perhatian terhadap
isu-isu tentang perempuan. Lahirnya agama Kristen tidak memperbaiki
kondisi mereka maupun memberikan hak-hak yang patut mereka peroleh. Agama
Kristen tidak membebaskan perempuan dari cengkraman otoritas kaum laki-laki
ataupun melindungi mereka dari penindasan dan kezaliman laki-laki. Sebaliknya,
agama Kristen memaksa perempuan untuk tunduk pada otoritas kaum laki-laki dan
menaati mereka secara mutlak. Paulus berkata : “wahai para istri, patuhlah
kepada suamimu seperti kepada Tuhan, kerena suami adalah pemimpin istrinya
sebagaimana Kristus adalah pemimpin gereja.”
Yesus
merobohkan kebiasaan dan hukum Yahudi yang telah berabad-abad diperaktekkan. Ia
memperlakukan perempuan setara dengan laki-laki. Sikap dan pandangannya
menunjukkan bahwa Yesus menghormati kaum perempuan. Sabda-Nya: Sebab siapapun
yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah
saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku (Mat 12:50).
Dalam Lukas
8:1-3, “Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan
dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan (Tuhan). Kedua belas murid-Nya
bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah
disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut
Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza
bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini
melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka”.
Demikian
pula apabila kita memperhatikan bagaimana sikap Yesus terhadap perempuan. Yesus
memperlakukan perempuan secara positif, misalnya dalam Lukas 7:36-50, diceritakan
bahwa Yesus sangat memperhatikan dan menerima secara positif perempuan berdosa
yang datang kepadanya untuk mengurapi kakinya dengan minyak narwastu. Hal itu
sangat bertentangan dengan sikap para laki-laki yang juga hadir di tempat yang
sama. Laki-laki cenderung menolak dan menyalahkan perempuan berdosa yang
meminyaki kaki Yesus. sangat menarik sikap Yesus jika dibanding dengan
laki-laki yang lain. Nampak bahwa sebagai laki-laki Yesus tidak memanfaatkan
posisinya untuk mendominasi perempuan.
Dalam
Petrus berkata dalam surat pertamanya : “Wahai para budak, patuhlah
kepada tuan-tuanmu dengan segala hormat, tidak hanya kepada mereka yang
bersikap baik dan penuh perhatian tetapi juga pada mereka yang berlaku
kasar.”
Di
samping itu ada juga surat-surat Paulus kepada beberapa jemaat di daerah
pelayanannya yang menunjuk adanya dualisme. Di satu pihak Paulus mengatakan
bahwa seseorang tidak boleh dibedakan dari kebangsaannya (Yahudi dan Yunani).
Seseorang juga tidak boleh dibedakan dari statusnya (budak atau tuan; laki-laki
atau perempuan), semuanya sama di dalam Kristus. Namun, di pihak lain secara
jelas tampak dibedakannya status antara laki-laki dan perempuan. Istri harus
hormat dan tunduk pada suaminya, sebab suami adalah kepala dari istri.
D.
Status dan Peran Perempuan dalam Perspektif Teolog Kristen
Bagian
Alkitab yang paling sering dikutip oleh teolog-teolog feminis dan diklaim
sebagai dasar teologi mereka, yang juga dikenal sebagai magna carta of humanity
adalah Galatia 3:2839 yang berbunyi: “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau
orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau
perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus
Yesus.” Galatia 3:28 dipandang sebagai ayat yang membebaskan wanita
dari penindasan, dominasi dan subordinasi pria. Bagian-bagian lain yang
juga berbicara tentang kesederajatan adalah: Kejadian 34:12; Keluaran 21:7,
22:17, Imamat 12:1-5; Ulangan 24:1-4; 1 Samuel 18:25 yang berbicara bahwa
wanita dan pria memiliki status sosial yang sama; Hakim-hakim 4:4, 5:28-29; 2
Samuel 14:2, 20:16; 2 Raja-raja 11:3, 22:14; Nehemia 6:14, adalah ayat-ayat
yang memperlihatkan bahwa wanita memiliki tempat dalam kehidupan religius dan
sosial bangsa Israel, kecuali dalam hal keimaman; sedangkan dalam Kejadian 1:27
dikatakan bahwa wanita dan pria adalah makhluk yang sama-sama diciptakan
menurut gambar dan rupa Allah. Berdasarkan penafsiran terhadap ayat-ayat
di atas khususnya Galatia 3:28, para feminis menyimpulkan bahwa Paulus dengan
jelas mengukuhkan kesetaraan antara pria dan wanita dalam komunitas Kristen;
pria dan wanita memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang sama baik di
gereja maupun dalam rumah tangga. Kesimpulan lain dari penafsiran ini
ialah bahwa tujuan panggilan Kristen adalah kemerdekaan. Selain itu, di
dalam usaha menelaah sejarah kaum wanita di dalam Alkitab, teolog-teolog
feminis tidak hanya menemukan ide tentang kesederajatan pria dan wanita.
Di dalam Alkitab mereka ternyata menemukan bahwa Allah orang Kristen bukan
Allah yang paternal; dari sejumlah ayat yang terdapat di Alkitab mereka
menemukan bukti-bukti yang mendukung konsep Allah yang maternal. Itulah
sebabnya sebagian teolog feminis menuntut agar Allah tidak hanya disebut
sebagai Bapa tetapi juga Ibu. Secara tajam mereka pun mengkritik rumusan
baptisan yang berbunyi: “dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.”
E.
Partisipasi Perempuan di dalam Gereja
Di
lingkungan agama kristen, memang masih cukup banyak penindasan terhadap kaum
perempuan. Kaum perempuan tidak mempunyai hak yang sama untuk ikut memilih
anggota majlis Gereja, apalagi menduduki jabatan itu. Kaum perempuan hanya
mempunyai hak untuk memilih, tetapi belum berhak untuk menduduki jabatan di
dalam Gereja. Meskipun ada anggota majelis Gereja yang berasal dari kaum
perempuan, itupun jumlahnya masih sangat terbatas dan langka. Jadi, memang
secara kelembagaan, penghargaan terhadap kesetaraan laki-laki dan perempuan
masih diabaikan dan perlu dipertanyakan.
Agama
Kristen menganggap perempuan sebagai sumber kejahatan. Mereka percaya bahwa
setiap perempuan bersalah melakukan dosa asal dan dia bertanggung-jawab atas
pengusiran Adam dari surga. Kisah Adam dan Hawa adalah penyebab utama
penindasan kaum perempuan di dalam agama Kristen. ‘Tertullian’ percaya bahwa
kaum perempuan adalah ‘Pasangan Lucifer’. Bukankah perempuan mentaati setan dan
menentang Tuhan? Teori yang dikembangkan dan dijelaskan oleh Tertullian ini
menyebabkan terjadinya penindasan dan penghinaan terhadap perempuan Kristen
selama beberapa abad.
Selain itu, perempuan diharuskan menunjukkan prilaku
tertentu di luar dan di dalam Gereja, dan Paulus secara tegas menganjurkan hal
berikut — kalian kaum perempuan tidak boleh berbicara di dalam Gereja, karena
mereka tidak berhak untuk berbicara dan jika kaum perempuan ingin belajar, maka
seharusnya atau kalau perlu kaum perempuan harus bertanya terlebih dahulu
kepada suaminya di rumah, dan jika hal itu tidak dilakukan oleh kaum perempuan.
Hal ini dikarenakan sangat memalukan
jika seorang perempuan berbicara di dalam Gereja”.
F.
Peran Teologi Feminis Kristen dalam Gerakan Reformasi Sosial Keagamaan untuk Kesetaraan
Gender Abad ke 20
Pada
abad pertengahan kaum wanita mulai menyadari bahwa mereka dimarginalkan dalam
urusan gereja dan masyarakat; kesempatan yang mereka miliki sangat terbatas dan
tempat yang tersedia bagi mereka hanyalah dalam rumah tangga. Kesadaran
akan keadaan ini mulai membawa sedikit angin perubahan. Sejumlah wanita
tampil sebagai penulis-penulis spiritual dan mistik pada masa ini. Beberapa
karya tulis mereka menunjukkan adanya pengertian yang mendalam tentang isu-isu
filsafat. Hanya karya tulis tersebut tidak dalam bentuk seperti tulisan
para teolog gereja tetapi lebih bersifat kontemplatif yang memperlihatkan
pendekatan mereka terhadap masalah-masalah kehidupan, di mana kunci jawabannya
mereka cari di dalam hal-hal spiritual. Keadaan kaum wanita secara
perlahan-lahan mengalami sedikit perubahan pada zaman Pencerahan. Semangat abad
Pencerahan memberi dampak besar bagi bangkitnya para wanita terutama di
Eropa. Beberapa wanita tampil ke permukaan dan melahirkan karya tulis
ilmiah tentang wanita. Gagasan kesetaraan wanita dengan pria dituangkan
dalam tulisan-tulisan mereka dalam bentuk esai, disertasi dan sebagainya.
Pada
abad berikutnya muncul beberapa wanita terkemuka yang memberikan kontribusi
signifikan dalam bidang sains dan filsafat; sebagian lainnya memainkan peran
penting di bidang seni, pendidikan dan politik. Gerakan ini makin terasa
pada abad kedua puluh khususnya di Barat. Di Amerika Serikat yang menjadi
katalisator gerakan wanita modern adalah karya monumental Betty Friedan, The
Feminine Mystique (1963) yang memberikan pengaruh yang sangat kuat bagi
masyarakat di negara tersebut. Pengaruhnya dapat disejajarkan dengan
karya Charles Darwin, The Origin of the Species. Sejak saat itu gerakan ini seolah
tak terbendung lagi. Kini gerakan feminisme dapat kita jumpai di belahan
bumi mana pun, sehingga tidak heran jika kita mengenal adanya black feminist
theology di Afrika, feminis Islam di Indonesia, feminis Yahudi dan sebagainya.
Teologi
feminis lahir sebagai reaksi protes terhadap dominasi dan penindasan terhadap
kaum wanita yang berlangsung di dalam dan di luar gereja selama
berabad-abad. Teolog-teolog feminis sendiri yakin bahwa pendorong gerakan
mereka berakar dari pengajaran PB tentang bagaimana seharusnya orang Kristen
berelasi satu dengan yang lain. Model relasi orang Kristen, khususnya
pria dan wanita tidak bersifat hierarki melainkan kesederajatan yang sempurna
dan tidak boleh ada lagi peran dalam masyarakat, gereja ataupun di rumah yang
berdasar pada gender.
0 komentar:
Posting Komentar