Responding Paper
Relasi Gender Dalam Agama Buddha
Indana Zulfa (1111034000136)
A. Status
Perempuan dalam Agama Buddha
Kondisi
masyarakat India pada masa pra-Buddha diwarnai oleh perlakuan yang
diskriminatif atas kasta dan gender. Salah satu ajaran Brahmanisme yang sangat
seksis mengatakan bahwa hanya keturunan laki-laki yang berhak melaksanakan
ritual penyucian pada saat upacara kematian orang tua mereka khususnya ayah, dan akan mengangkat ayah mereka
masuk ke alam surga. Perempuan tidak berhak dan diyakini tidak memiliki
kemampuan untuk menyelamatkan orang tua mereka. Dalam situasi demikian, Buddha
hadir membawa pembaharuan. Kasta dihapuskan, perempuan diberi hak dan kesempatan
yang hampir sama dengan laki-laki dalam menjalani kehidupan religius maupun
sosial. Totalitas sikap Buddha yang adil gender ialah didirikannya Sangha
Bhikkhuni atau komunitas perempuan yang menjalani hidup suci secara
selibat. Perempuan memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan atas jalan
hidupnya sendiri: menjadi perumah-tangga biasa, atau meninggalkan peran
tradisional tersebut dan hidup sebagai bhikkhuni. Buddha Gautama telah
mewujudkan keadilan gender yang hampir setara, yang pada konteks jaman tersebut
merupakan hal yang sangat radikal.
Pembaharuan yang dibawa oleh Buddha tersebut bertolak dari Hukum Karma yang
diajarkannya: Kemuliaan seseorang tidak berasal pada kelahirannya yang berjenis
kelamin atau dari keturunan (kasta) tertentu, melainkan ditentukan oleh
perbuatan yang dilakukan. Ritual-ritual persembahan atau pengorbanan tidak
dapat menyucikan batin dan membebaskan seseorang dari samsara; oleh
karenanya, salah satu keyakinan yang mendiskreditkan perempuan karena dianggap
tidak dapat menyucikan orang tuanya setelah mereka meninggal adalah tidak
benar.
Buddha
menegaskan potensi pencapaian spiritual yang sama antara kaum laki-laki dan
perempuan asal tekun melatih diri dengan menyempurnakan: Sila (moralitas),
Samadhi (konsentrasi), dan Pañña (kebijaksanaan). Tidak ada bias
gender atau seksisme dalam ‘ajaran Buddha yang fundamental dan universal.’
Setelah
Buddha mangkat (Parinibbana), status perempuan mengalami kemerosotan
lagi. Perkembangan Buddhisme belakangan, terutama sejak munculnya sekte-sekte,
telah melahirkan pandangan-pandangan negatif terhadap perempuan yang
bertentangan dengan semangat ajaran Buddha yang egaliter. Pendapat lain
mengklaim bahwa sifat non-egaliter dalam agama Buddha muncul karena pengaruh
Hindu dan Konfusianisme, serta kepercayaan-kepercayaan lokal yang
patrtiarkis di mana agama Buddha berkembang.
Status
Perempuan dalam aliran Budha Teravada
Budha menginginkan kaum perempuan
terbebas dari penderitaan, jangan menyerah terhadap naluri mereka yang
melemahkan, beliau menciptakan kondisi bagi kaum perempuan untuk masuk ke jalur
kebijaksanaan dan setuju bahwa perempuan mampu untuk mencapai tingkat arahat.
Dalam winaya pitaka menjabarkan tentang disiplin bagi para bhiksuni dan
institusi pada masa itu.
Semua teks pali ini merupakan sumber
untuk memahami hakikat perempuan dalam tradisi theravada, jelas bahwa pada
jaman Budha, ada banyak kasus perempuan dari berbagai golongan masyarakat yang
menjdi bikhuni dan jelas beberapa dari mereka meraih tingkatan arahat.
Status Perempuan Dalam Mahayana
Dalam naskah Budhis Mahayana banyak
ditemukan contoh-contoh perempuan yang dilukiskan sebagai Bhodisatwa yang maju
yang mampu mencapai pencerahan. Kita juga menemukan beberapa ketidak jelasan antara Bhiksuni
dan wanita Budha awam. Beberapa kisah yang terkenal dalam Sutra
Sadharmapundarika, Sutra Wirmalakirtinirdesa, Sutra Astasahasrika
Prajnaparamita, dan Sutra Sirmalasimhanada menggambarkan umat awam wanita,
kadangkala bahkan anak-anak perempuan berusia delapan tahun, yang menguasai
doktrin yang mendalam terlibat dalam praktik Bhodisatwa.
B. Sejarah
Munculnya Kerahiban Perempuan
Semenjak Sangha Bhikkhuni ada, umur Sangha Bhikkhu akan
menjadi setengahnya dari 1000 tahun menjadi 500 tahun.
Cerita
penolakan Buddha sebanyak 3 kali terhadap ibu tirinya yang ingin ditahbiskan
menjadi bikkhuni. Akhirnya Buddha menerima bhikkhuni dengan syarat 8 garu
dhamma.
Delapan garu dhamma atau delapan aturan keras bagi bhikkhuni,
dua diantaranya adalah:
Seorang bhikkhuni, walaupun sudah menjalankan sampai 100
tahun kebiksuniannya, harus menyapa dengan hormat terhadap seorang bhikkhu
walaupun bhikkhu tersebut baru sehari menjadi biksu.
Seorang bhikkhuni tidak diperbolehkan untuk menasehati
seorang bhikkhu, namun seorang bhikkhu boleh menasehati seorang bhikkhuni.
Ciri-ciri Buddha
yang berjumlah 32 (mahapurusa) salah satunya adalah alat kelamin laki-lakinya
terbungkus oleh selaput, membuat banyak penganut Buddha tradisi Therawada
meyakini bahwa Buddha haruslah seorang pria. Padahal di dalam teks Therawada sendiri (Tripitaka Pali) dikatakan
bahwa Buddha adalah orang yang tercerahkan yang mencapai nibbana (nirwana),
yaitu terbebas dari keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan
ketidaktahuan/kebodohan batin (moha). Bahkan di Tripitaka Pali banyak
disebutkan bahwa perempuan juga bisa mencapai pencerahan. Jadi sangat tidak
masuk akal jika dikatakan bahwa perempuan tidak bisa menjadi Buddha. Pemikiran
inilah yang kemudian berkembang di dalam pemikiran buddhisme tradisi Mahayana
sehingga ada konsep Buddha wanita. Dan mungkin kita perlu meragukan keaslian
konsep mahapurusa atau 32 ciri Buddha apakah memang dari Buddha sendiri atau
tambahan yang dibuat untuk meninggikan beliau sehingga masyarakat pada saat itu
lebih bisa meyakini beliau.
Anggapan
dilahirkan sebagai perempuan lebih rendah mungkin karena desakan kaum
brahmanisme pada saat itu yang semakin kuat (sekitar abad ke-3 sebelum masehi).
Apalagi ditambah dengan anggapan bahwa Buddha haruslah seorang laki-laki
sehingga saat ini masih ada sebagian kecil umat Buddha yang menganggap
kelahiran sebagai wanita adalah lebih rendah, padahal perempuan juga bisa
mencapai nirwana atau setara dengan Buddha.
Mahayana
adalah buddhime yang lebih liberal. Mahayana sendiri terdiri dari berbagai
macam tradisi-tradisi kecil. Sebagian pemikiran Mahayana mengangkat kaum
perempuan sehingga dalam Jataka Cina dapat ditemukan bodhisatta yang terlahir
sebagai perempuan sebelum akhirnya terlahir sebagai laki-laki yaitu Buddha
Gotama. Namun, hal tersebut dirasa tidak sesuai dengan ajaran Buddha sehingga
pada akhirnya lahir konsep Buddha Perempuan di Cina yang terwujud dalam
awalokiteswara (guan-yin). Untuk membuat kesejajaran gender, dikembangkan konsep
bodhisatwa. Bodhisattva mempunyai pengertian yang lebih luas daripada
bodhisatta, yaitu orang yang mampu menjadi Buddha namun tidak langsung memasuki
nirwana, tetapi mengabdikan dirinya demi makhluk lain. Jadi Bodhisatwa bukan
hanya ada satu orang seperti halnya dalam bodhisatta. Evolusi Bodhisatwa
guan-yin menjadi perempuan juga memberikan dampak penghormatan terhadap
perempuan dan memberikan arti bahwa perempuan juga bisa menjadi Buddha.
Diskriminasi
selanjutnya adalah terhadap bhikkhuni. Dikatakan sejak awal kemunculan sangha
perempuan, sangha bhikkhu akan berkurang umurnya. Namun, kenyataannya sangha
Mahayana hingga saat ini yang mempunyai biksuni tetap bertahan dan bahkan salah
satu biksuninya amat dihormati (biksuni Cheng-Yen, pendiri Tzu Chi).
Dikatakan juga Buddha menolak tiga kali permintaan ibu
tirinya untuk menjadi bikkhuni. Mungkin pada kasus ini, ibu tirinya adalah
seorang ratu sehingga jika Buddha menerimanya, akan terjadi ketidakstabilan
politik kerajaan dan Sangha Bhikkhu akan mengalami masalah. Buddha adalah orang yang sangat bijaksana sehingga beliau
berhati-hati ketika mengambil keputusan. Atau mungkin saja cerita penolakan
tersebut belakangan timbul untuk maksud tertentu.
Setelah
kematian Buddha, ucapan-ucapan beliau belum ditulis. Hanya diturunkan melalui
ucapan-ucapan dari satu generasi ke generasi selanjutnya, sehingga memungkinkan
adanya penafsiran-penafsiran atau tambahan-tambahan di dalam kitab suci
Tripitaka. Tripitaka Pali (Therawada) ditulis 4 abad setelah kematian Buddha
sehingga ada kemungkinan tidak sama persisi seperti yang Buddha katakan. Begitu
pula Tripitaka Cina (Mahayana) dan sutra-sutra tambahan dibuat beberapa abad
setelah kematian Buddha. Namun demikian, bagi umat Buddha hal tersebut tidak
menjadi masalah karena ajaran Buddha perlu dilaksanakan untuk dibuktikan bukan
menerima mentah-mentah isi kitab suci. Saatnya kita mulai berpikir lebih kritis
dan memandang biksuni sama ketika kita memandang biksu. Penghormatan seseorang
terhadap biksuni juga harus sama dengan penghormatannya terhadap biksu.
0 komentar:
Posting Komentar